Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten
Pewarta: Ifa
Tabanan, Bali – Majelis Ta’lim MT Al Bana di Desa Gubug, Kabupaten Tabanan, Bali, menggelar pengajian penutup menjelang datangnya 1 Ramadhan 1447 Hijriah, Sabtu (14/2/2026) pukul 16.00 WITA. Kegiatan yang rutin dilaksanakan dua pekan sekali oleh jamaah ibu-ibu Perumahan Kubuk Indah Tabanan ini berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.
Pengajian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah sebagai wasilah, dilanjutkan tahlil, Yasin, dan doa bersama untuk para leluhur. Tradisi ini dikenal dalam kultur Jawa sebagai Megengan atau Ruwahan, yang dilaksanakan menjelang bulan suci sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan keluarga yang telah wafat.
Tausiah inti disampaikan oleh Ustadz Imam Iskandar dari Jombang, yang secara khusus membahas hukum tradisi Megengan dalam perspektif Islam serta urgensi kesiapan ruhani menyambut Ramadhan.
Tegaskan Hukum Megengan
Dalam ceramahnya, Ustadz Imam Iskandar menegaskan bahwa tradisi Megengan, Ruwahan, maupun Nyadran termasuk perkara adat yang hukumnya mubah (boleh), selama tidak bertentangan dengan akidah Islam.
“Megengan atau ruwahan itu bukan ibadah wajib, tetapi tradisi. Hukumnya mubah selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama dan tidak mengandung kemusyrikan. Isinya doa, sedekah, dan silaturahmi, itu semua bernilai kebaikan,” tegas Ustadz Imam Iskandar.
Ia menjelaskan bahwa mengirim doa kepada ahli kubur adalah bagian dari bakti seorang anak kepada orang tuanya.
“Doa anak saleh kepada orang tuanya tidak terputus. Jadi kalau niatnya kirim doa, itu dianjurkan dalam Islam,” ujarnya di hadapan jamaah MT Al Bana.
Menurutnya, kata Megengan berasal dari megeng atau ngempet, yang berarti menahan diri.
“Maknanya jelas, kita dilatih menahan hawa nafsu sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ini persiapan batin, bukan sekadar tradisi makan bersama,” jelasnya.
Ramadhan: Madrasah Taqwa
Dalam bagian “Bab Ramadhan”, Ustadz Imam Iskandar mengingatkan bahwa puasa adalah ibadah wajib yang bertujuan membentuk ketakwaan.
“Allah menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ramadhan adalah madrasah taqwa. Kalau kita bersyukur, Allah akan tambahkan nikmat-Nya,” katanya.
Ia juga menekankan keutamaan bulan suci:
“Di bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan pahala dilipatgandakan. Maka jangan masuk Ramadhan tanpa ilmu dan kesiapan hati.”
Selain itu, ia mengajak jamaah memperbanyak shalawat, membaca Al-Qur’an, serta memperkuat sedekah dan silaturahmi.
“Ramadhan harus lebih baik dari bulan sebelumnya. Kalau tidak ada perubahan, berarti kita belum maksimal dalam ibadah,” pesannya.
Penguatan Fikih Puasa
Dalam tausiahnya, Ustadz Imam Iskandar juga mengulas dasar fikih puasa: pengertian shiyam sebagai menahan diri dari hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari; rukun puasa berupa niat dan menahan diri; serta hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan sengaja, muntah disengaja, serta hubungan suami istri di siang hari.
Ia menegaskan bahwa Islam memberi keringanan bagi orang sakit, musafir, ibu hamil atau menyusui, serta lansia dengan ketentuan qadha atau fidyah sesuai syariat.
“Islam itu memberi kemudahan, tapi jangan mencari-cari alasan untuk meninggalkan kewajiban,” tegasnya.
Tradisi dan Syariat Berjalan Seiring
Pengajian MT Al Bana di Desa Gubug ini menjadi cerminan harmonisasi antara tradisi dan syariat. Jamaah ibu-ibu tidak hanya menjaga budaya leluhur, tetapi juga memperkuat pemahaman agama sebagai bekal menyambut Ramadhan.
Menutup tausiahnya, Ustadz Imam Iskandar memberikan pesan reflektif:
“Ramadhan bukan sekadar datang lalu pergi. Yang terpenting adalah perubahan diri. Jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik menjadi pribadi yang lebih taqwa.”
Sore itu, di Desa Gubug, semangat menyambut Ramadhan terasa bukan hanya dalam doa, tetapi juga dalam kesadaran untuk memperbaiki diri dan memperkuat keimanan.
