Bertahun-Tahun Terabaikan, Gunungan Sampah Cintanggulun Akhirnya Disikat Warga


Integritasnews.my.id | Laporan: Alex

Setelah bertahun-tahun menjadi luka terbuka di tengah permukiman, tumpukan sampah di wilayah Rukun Warga Cintanggulun RT 03 RW 04 akhirnya mulai ditangani. Bukan oleh alat berat atau proyek seremonial, melainkan oleh tangan-tangan warga sendiri yang sudah terlalu lama dipaksa hidup berdampingan dengan bau busuk dan ancaman penyakit.

Aksi bersih-bersih itu melibatkan RT 03 di bawah koordinasi Ayi, serta dihadiri Asep Ogin, bersama sejumlah warga yang turun langsung melakukan operasi penarikan dan pengangkutan sampah. Sampah yang selama ini menumpuk di lokasi liar, sebagian bahkan telah membatu oleh waktu, perlahan disingkirkan dari ruang hidup masyarakat.

Penumpukan sampah tersebut bukan peristiwa semalam. Limbah rumah tangga dibiarkan menahun akibat ketimpangan serius antara produksi sampah harian dan kapasitas pengelolaan serta pengangkutan yang terbatas. Dalam kondisi seperti itu, Tempat Pembuangan Akhir maupun titik pembuangan liar berubah menjadi gunungan yang tak hanya menjijikkan, tetapi juga berbahaya.


“Ini bukan sekadar soal kotor atau tidak enak dipandang. Ini soal keselamatan lingkungan dan kesehatan warga yang selama bertahun-tahun seolah dibiarkan menghadapi risiko sendirian,” tegas Alex, pewarta Integritasnews.my.id, di lokasi kegiatan.

Dari pantauan di lapangan, aroma menyengat masih terasa kuat, menandakan proses pembusukan yang sudah berlangsung lama. Limbah plastik, popok sekali pakai, hingga styrofoam bercampur tanpa pengelolaan, memperparah kondisi. Para ahli lingkungan mencatat, plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai, sementara styrofoam bahkan hampir mustahil terurai secara alami.

Dampaknya tidak berhenti pada bau. Sampah yang didiamkan dalam waktu lama mencemari tanah dan air tanah, menghasilkan gas metana yang mudah terbakar, serta menjadi sarang penyakit. Saluran air yang tersumbat sampah berpotensi memicu banjir lokal, sementara ancaman penyakit seperti diare, kolera, dan infeksi kulit terus mengintai warga sekitar.

Ironisnya, kondisi ini kerap dianggap biasa karena berlangsung terlalu lama. Ketika masalah dibiarkan menahun, ia kehilangan sensasi darurat—padahal bahayanya justru berlipat.

“Warga akhirnya bergerak karena menunggu terlalu lama tidak menghasilkan apa-apa. Ini alarm keras bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi setengah hati,” lanjut Alex.

Aksi gotong royong ini sekaligus menjadi cermin: ketahanan sosial warga masih hidup, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan pembiaran struktural. Penanganan jangka panjang menuntut kolaborasi semua pihak, mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga, penguatan sistem daur ulang, hingga peningkatan infrastruktur dan armada pengangkutan yang memadai.

Jika tidak, apa yang terjadi di Cintanggulun hari ini hanya akan berulang di tempat lain esok hari—gunungan sampah berganti lokasi, bau berganti arah angin, sementara risikonya tetap sama.

Bagi warga RT 03 RW 04, langkah ini mungkin baru awal. Namun setidaknya, setelah bertahun-tahun terabaikan, mereka memilih tidak lagi diam.