Oleh: Redaksi Integritasnews.my.id
Surabaya, 29 Maret 2026 – Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026 tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di ruang informasi global.
Sejak awal, pengamat sekaligus lawyer, aktivis ’98, dan jurnalis berpengalaman di dalam maupun luar negeri, Saiful Huda Ems (SHE), telah menyoroti bahwa konflik ini juga merupakan pertarungan besar dalam membentuk opini publik dunia melalui media.
Perang narasi dan propaganda antar media menjadi salah satu arena krusial yang turut membentuk persepsi publik global terhadap konflik tersebut.
Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), media-media internasional bergerak cepat menyajikan laporan. Namun di balik derasnya arus informasi itu, muncul perbedaan mencolok dalam cara masing-masing media membingkai peristiwa, yang menunjukkan bahwa pemberitaan konflik tidak pernah sepenuhnya netral.
Dominasi Media Barat dan Pola Framing
Media arus utama Barat seperti CNN, BBC, Fox News, hingga surat kabar besar seperti The New York Times, The Washington Post, The Guardian, dan The Wall Street Journal menjadi sumber informasi paling dominan dalam pemberitaan global.
Liputan mereka umumnya mengandalkan:
Briefing resmi militer dan pemerintah AS
Analisis geopolitik dari perspektif Barat
Pembaruan cepat (breaking news) berbasis sumber internal
Sejumlah laporan bahkan telah memprediksi peningkatan tensi militer jauh sebelum konflik terbuka terjadi. Kantor berita internasional seperti Reuters, Associated Press, dan Bloomberg turut berperan sebagai “pemasok utama” informasi yang kemudian dikutip luas oleh media lain di seluruh dunia.
Namun demikian, pola framing media Barat cenderung menitikberatkan pada:
Aspek keamanan global versi Barat
Strategi militer dan kepentingan geopolitik
Narasi yang selaras dengan pernyataan resmi pemerintah
Keterbatasan akses independen ke wilayah Iran juga membuat verifikasi informasi menjadi tantangan tersendiri.
Media Pembanding dan Perspektif Alternatif
Di sisi lain, media non-Barat atau alternatif menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Media seperti Al Jazeera, Anadolu Agency, hingga Press TV kerap menyoroti dampak kemanusiaan dan korban sipil secara lebih intens.
Karakteristik pemberitaan mereka antara lain:
Fokus pada dampak sosial dan kemanusiaan
Kritik terhadap kebijakan luar negeri Barat
Penyajian narasi yang berbeda dari media arus utama
Al Jazeera, misalnya, lebih banyak mengangkat eskalasi regional serta kondisi masyarakat sipil, sementara Anadolu Agency sering memuat perkembangan diplomasi dari perspektif non-Barat.
Media dari Pihak Konflik: Narasi Kepentingan
Media dari negara yang terlibat langsung dalam konflik juga memiliki framing yang sangat khas.
Media Israel seperti Haaretz dan The Times of Israel cenderung:
Membingkai konflik sebagai langkah defensif
Menyoroti ancaman keamanan nasional
Fokus pada potensi serangan balasan Iran
Sementara media Iran, termasuk Islamic Republic News Agency dan Press TV, menekankan:
Narasi perlawanan dan kekuatan militer Iran
Klaim keberhasilan serangan balasan
Penegasan posisi Iran sebagai pihak yang bertahan
Perbedaan tajam ini memperlihatkan bahwa media sering kali menjadi alat komunikasi strategis negara dalam membangun opini publik global.
Media Alternatif: Kritik terhadap Dominasi Narasi
Selain itu, media alternatif seperti Democracy Now! dan Mondoweiss turut hadir memberikan perspektif kritis, terutama terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya.
Mereka lebih banyak mengangkat:
Dampak kemanusiaan yang jarang disorot
Kritik terhadap intervensi militer
Analisis propaganda dan bias informasi
Pentingnya Literasi Media di Tengah Konflik
Pengamat menilai, kondisi ini menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya soal kekuatan militer, tetapi juga perang informasi. Akses yang terbatas serta kepentingan politik masing-masing pihak membuat laporan awal sering kali sulit diverifikasi secara independen.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, publik disarankan untuk membandingkan berbagai sumber, setidaknya dari tiga perspektif:
Media Barat arus utama
Media Timur Tengah atau non-Barat
Media dari pihak yang terlibat langsung dalam konflik
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat mengurangi risiko terjebak dalam bias informasi dan propaganda.
Penutup
Perang Iran–AS–Israel 2026 menjadi contoh nyata bagaimana informasi dapat menjadi senjata yang sama kuatnya dengan rudal dan teknologi militer. Di tengah derasnya arus berita, ketajaman analisis dan kehati-hatian dalam menyaring informasi menjadi kunci agar publik tidak terseret dalam narasi sepihak.
Dalam lanskap global yang penuh kepentingan, kebenaran sering kali berada di antara berbagai versi cerita. Dan di situlah pentingnya jurnalisme yang kritis, berimbang, dan bertanggung jawab.
Pernyataan Saiful Huda Ems (SHE):
“Dalam setiap perang, peluru bisa melukai tubuh, tapi narasi bisa menguasai pikiran. Dunia hari ini tidak hanya sedang menyaksikan konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, melainkan juga pertarungan besar dalam mengendalikan persepsi umat manusia.
Jangan pernah menjadi pembaca yang pasif. Karena ketika kita hanya mengonsumsi satu sumber informasi, di situlah kita sedang digiring tanpa sadar. Media bukan sekadar penyampai fakta, tetapi juga pembentuk realitas.
Jika ingin melihat kebenaran lebih utuh, beranilah keluar dari satu sudut pandang. Bandingkan, telaah, dan rasakan sendiri kejanggalannya. Sebab dalam konflik sebesar ini, yang paling berbahaya bukan hanya rudal, tapi informasi yang sudah dikemas untuk kepentingan tertentu.
Dan saya meyakini, cepat atau lambat, dunia akan melihat sendiri siapa yang benar-benar kuat—bukan hanya di medan perang, tapi juga dalam membangun narasi yang tak bisa lagi dibungkam.”
— Saiful Huda Ems (SHE)
