Serangan Artileri Hantam Pos TNI di Lebanon, 1 Prajurit Gugur, 1 Koma, Situasi Memanas


Oleh: Redaksi Integritasnews.my.id

Lebanon, 30 Maret 2026 – Serangan artileri yang menghantam area Kompi C UNP 7-1, wilayah penugasan Kontingen Garuda di bawah misi perdamaian PBB, menelan korban dari prajurit TNI. Insiden yang terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah ini mengakibatkan satu prajurit gugur, satu dalam kondisi koma, serta dua lainnya mengalami luka ringan.

Korban meninggal dunia adalah Praka Fahrizal Rhomadhon, anggota Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam IM. Sementara itu, Praka Rico Pramudia dari Yonif 114/SM dilaporkan dalam kondisi kritis (koma) dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George, Beirut, untuk penanganan intensif. Dua prajurit lainnya, Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan, mengalami luka ringan dan kini dalam kondisi stabil.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu malam, 29 Maret 2026, sekitar pukul 20.43 waktu setempat. Saat itu, keempat prajurit tengah melaksanakan salat Isya berjamaah di mushola Kompi C UNP 7-1, setelah sebelumnya mendapatkan izin dari komandan bunker masing-masing.

Namun di tengah ibadah yang berlangsung khusyuk, sebuah proyektil artileri menghantam kantor Komandan Kompi yang berlokasi tepat di samping mushola. Ledakan keras tak hanya merusak bangunan, tetapi juga menghantam para prajurit yang berada di dalamnya.

Komandan Kompi C, Mayor Inf Rusmanto, yang mendengar laporan melalui radio komunikasi, segera bergegas menuju lokasi. Ia menemukan dua prajurit telah tergeletak di area mushola dalam kondisi kritis. Upaya evakuasi darurat pun langsung dilakukan menuju fasilitas medis terdekat yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi kejadian.

Tim medis Satgas segera memberikan pertolongan pertama. Namun, sekitar pukul 22.08 waktu setempat, Praka Fahrizal dinyatakan gugur. Sementara Praka Rico dalam kondisi koma dan harus menjalani evakuasi udara menggunakan helikopter menuju fasilitas medis yang lebih lengkap di Beirut.

Proses evakuasi sempat mengalami kendala karena kondisi korban yang tidak stabil, sehingga tim medis gabungan, termasuk dari kontingen Prancis, harus melakukan penanganan darurat sebelum akhirnya korban dapat diterbangkan sekitar pukul 23.00 waktu setempat.

Berdasarkan analisa awal, proyektil artileri diduga berasal dari pasukan Israel (IDF) yang tengah melakukan serangan ke arah Desa Adchit Al Qusair. Namun lintasan roket melintasi area UNP 7-1 yang merupakan zona pasukan perdamaian. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan malfungsi atau salah sasaran.

Situasi di wilayah penugasan dilaporkan semakin rawan. Konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung selama hampir satu bulan terakhir, dengan intensitas serangan yang terus meningkat.

Menanggapi insiden ini, Komandan Satgas langsung mengambil sejumlah langkah cepat, di antaranya memperketat pengamanan seluruh personel dengan mewajibkan tetap berada di bunker, mengajukan permintaan penghentian tembakan (stop fire request) kepada pihak terkait melalui jalur resmi PBB, serta terus memonitor kondisi korban yang dirawat.

Selain itu, koordinasi intensif dengan markas UNIFIL dan sektor terkait terus dilakukan guna memastikan keselamatan seluruh personel TNI yang bertugas dalam misi perdamaian.

Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa medan tugas pasukan perdamaian bukanlah zona aman. Di tengah mandat menjaga stabilitas, ancaman nyata tetap mengintai setiap saat.

Integritasnews.my.id mencatat, insiden ini menjadi pengingat keras bahwa eskalasi konflik di kawasan tersebut telah melewati batas aman bagi pasukan non-tempur. Dunia internasional pun didesak untuk segera mengambil langkah konkret guna meredam konflik yang kian tak terkendali.

Sementara itu, jenazah almarhum Praka Fahrizal Rhomadhon direncanakan akan dievakuasi ke markas sektor untuk penanganan lebih lanjut sebelum dipulangkan ke tanah air.

Situasi terkini masih dinyatakan siaga tinggi