SHE: Daripada Telepon MBS, Lebih Masuk Akal Telepon Abu Janda


Jakarta, Integritasnews.my.id – Pengamat politik Saiful Huda Ems (SHE) kembali melontarkan kritik tajam terkait dinamika hubungan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, SHE menilai bahwa wacana meminta bantuan langsung kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), dalam konteks tertentu dinilai tidak realistis.

Menurutnya, jika tujuan komunikasi adalah untuk menyampaikan kritik atau membuka diskursus publik, justru tokoh kontroversial seperti Abu Janda dinilai lebih efektif karena memiliki panggung di ruang publik dan media.

“Daripada menelepon MBS, lebih masuk akal menelepon Abu Janda. Setidaknya dia masih bisa koar-koar di televisi,” ujar Saiful Huda Ems dalam pernyataannya yang beredar di media sosial.

SHE kemudian menyoroti kondisi geopolitik yang menurutnya sedang tidak mudah bagi Arab Saudi, terutama terkait hubungan keamanan dengan Amerika Serikat.

Ia menilai bahwa selama ini narasi yang berkembang adalah Amerika Serikat memberikan perlindungan keamanan kepada Arab Saudi. Namun dalam praktiknya, menurut dia, kondisi tersebut tidak selalu berjalan seperti yang digambarkan.


“Katanya Arab Saudi dilindungi Amerika Serikat. Tapi kenyataannya justru Arab Saudi yang seperti harus melindungi pangkalan militer Amerika di wilayahnya,” kata SHE.

Ia menjelaskan bahwa dalam berbagai konflik regional, Arab Saudi harus mengoperasikan sistem pertahanan udara yang sangat mahal untuk mencegat serangan rudal yang diarahkan ke wilayah strategis, termasuk yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat.

Menurut SHE, penggunaan sistem penangkal rudal tersebut membutuhkan biaya yang sangat besar setiap kali diluncurkan.

“Setiap saat Arab Saudi harus meluncurkan penangkal rudal yang harganya sangat mahal. Itu semua dilakukan untuk menghadapi serangan rudal yang terus diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam hubungan strategis kedua negara.

Dalam pandangannya, situasi tersebut menggambarkan bahwa hubungan aliansi keamanan tidak selalu berarti satu pihak sepenuhnya menjadi pelindung pihak lain.

“Realitas geopolitik sering kali jauh lebih rumit daripada narasi yang dibangun. Hubungan negara besar dan sekutunya seringkali saling membutuhkan, tetapi juga penuh kepentingan,” tambah SHE.

Pernyataan Saiful Huda Ems ini kembali memancing diskusi di ruang publik, terutama di kalangan pemerhati politik internasional yang menilai dinamika Timur Tengah masih akan terus menjadi salah satu kawasan paling kompleks dalam percaturan geopolitik global.

Hingga kini, konflik regional dan rivalitas antar negara di kawasan tersebut masih menjadi perhatian dunia internasional karena dampaknya yang luas terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.

(Pewarta: IFA)