Solidaritas Tanpa Batas Agama: Saiful Huda Ems Tegaskan Dukungan pada Perjuangan Kemanusiaan Dunia


Pewarta: Ifa

Media: Integritasnews.my.id

SURABAYA – Tokoh pemikir sosial sekaligus pengamat kebangsaan, Saiful Huda Ems yang dikenal dengan inisial SHE, kembali menyuarakan pandangan tajamnya mengenai nilai kemanusiaan universal. Melalui refleksi yang disampaikan pada Senin (16/3/2026), SHE menegaskan bahwa dukungan terhadap perjuangan kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh sekat agama, bangsa, ataupun kepentingan politik.

Dalam pandangannya, keberpihakan terhadap nilai keadilan adalah panggilan nurani yang melampaui identitas apa pun. Ia bahkan mengungkapkan bahwa sejak lama dirinya terinspirasi oleh tokoh-tokoh dunia yang dikenal memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan manusia, seperti Che Guevara dan Mahatma Gandhi.

SHE mengaku meskipun tidak hidup di era para tokoh tersebut dan tidak pernah mengenal mereka secara langsung, namun semangat perjuangan mereka telah menjadi inspirasi kuat dalam perjalanan pemikirannya tentang kemanusiaan.

“Saya sejak dulu selalu mendukung perjuangan orang-orang seperti Che Guevara dan Mahatma Gandhi. Bahkan nama saya sendiri saya singkat menjadi SHE agar orang ingat pada CHE Guevara,” ungkapnya.

Lebih jauh, SHE menegaskan bahwa dalam mendukung tokoh-tokoh tersebut, dirinya tidak pernah mempertanyakan latar belakang agama, kepentingan politik, ataupun identitas lain yang melekat pada mereka. Baginya, satu-satunya ukuran adalah apakah perjuangan itu berdiri di atas nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Tidak pernah sekalipun saya bertanya kepada mereka apa agamanya, apa jasanya bagi saya, atau kepentingannya apa hingga saya harus mendukungnya. Ini soal nurani kemanusiaan. Hati kita akan selalu bergetar ketika melihat ketidakadilan,” tegasnya.

Dalam konteks geopolitik dunia saat ini, SHE juga menyatakan dukungannya terhadap Republik Islam Iran yang menurutnya kerap diperlakukan tidak adil oleh kekuatan global tertentu. Ia secara khusus menyebut nama pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta penerus yang sering disebut dalam diskursus politik Iran, Mojtaba Khamenei.

Menurut SHE, dukungan tersebut bukanlah bentuk keberpihakan ideologis atau keagamaan, melainkan respons moral terhadap apa yang ia nilai sebagai ketimpangan dalam percaturan politik internasional.

“Saya mendukung Iran dan perjuangan Ali Khamenei serta penerusnya Mojtaba Khamenei yang sering diperlakukan tidak adil oleh Amerika dan Israel, juga oleh negara-negara lainnya. Ini persoalan kemanusiaan, bukan persoalan sentimen keagamaan,” jelasnya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik moral terhadap sikap sebagian pihak yang, menurutnya, sering kali menilai persoalan dunia hanya dari sudut pandang kepentingan politik semata, bukan dari perspektif kemanusiaan.

Bagi SHE, ketika manusia sudah tidak lagi peka terhadap penderitaan atau ketidakadilan yang dialami pihak lain hanya karena perbedaan agama atau kepentingan politik, maka di situlah tanda matinya nurani kemanusiaan.

“Jika kita tidak lagi mampu merasakan ketidakadilan yang menimpa orang lain hanya karena berbeda agama atau kepentingan, berarti nurani kemanusiaan kita telah mati,” pungkasnya.

Pandangan Saiful Huda Ems ini menambah daftar panjang refleksi kritisnya terhadap dinamika global. Dengan gaya pemikiran yang tegas namun sarat nilai kemanusiaan, SHE terus mengingatkan bahwa keadilan sejati hanya dapat terwujud ketika manusia berani berdiri di sisi kebenaran, tanpa memandang batas identitas apa pun.

(Ifa/Redaksi Integritasnews.my.id)