WwwIntegritasnews my id
JAWA BARAT – Fenomena menurunnya interaksi pada unggahan media sosial kembali memantik tanda tanya. Saiful Huda Ems (SHE), seorang penulis opini yang dikenal vokal dalam menyuarakan kritik politik, mengaku mengalami penurunan drastis pada jumlah like dan komentar di akun Facebook pribadinya.
Jika sebelumnya unggahan-unggahan opini politiknya mampu menarik ribuan respons dari publik, kini interaksi tersebut merosot tajam, hanya menyisakan ratusan bahkan puluhan tanggapan. Lebih jauh, ia juga mengungkapkan adanya sejumlah tulisan yang hilang tanpa penjelasan yang jelas dari platform.
“Biasanya tulisan saya ramai, sekarang sepi. Bahkan ada yang hilang, terutama yang mengkritik tokoh-tokoh seperti Trump, Netanyahu, Prabowo, Gibran, dan Jokowi,” ungkap SHE dalam pernyataannya.
Fenomena ini menimbulkan dugaan adanya pembatasan distribusi konten atau yang kerap disebut sebagai shadow banning. Dalam praktiknya, konten tidak dihapus secara terang-terangan, namun jangkauannya dibatasi sehingga tidak muncul secara luas di beranda pengguna lain.
Di sisi lain, berkembang pula spekulasi adanya intervensi pihak tertentu yang berupaya meredam suara-suara kritis di ruang digital. Meski belum ada bukti konkret yang mengarah pada keterlibatan institusi tertentu, kekhawatiran ini mencerminkan keresahan yang lebih luas terkait kebebasan berekspresi di era digital.
SHE menilai, kondisi ini bukan sekadar persoalan teknis algoritma, melainkan berpotensi menjadi sinyal adanya tekanan terhadap narasi kritis. Ia bahkan menyebut adanya “tangan-tangan jahil” yang berupaya membatasi ruang geraknya dalam menyampaikan pendapat.
Akibat situasi tersebut, ia mengaku mulai mengubah pola unggahannya. Dari yang semula aktif menulis kritik politik, kini lebih banyak membagikan konten ringan seperti aktivitas olahraga tinju dan swafoto.
“Sekarang saya posting yang aman-aman saja, olahraga sama selfie,” ujarnya dengan nada satir.
Perubahan ini menunjukkan adanya efek psikologis yang tidak bisa diabaikan. Ketika ruang digital yang seharusnya menjadi wadah bebas berekspresi justru terasa terbatas, maka terjadi pergeseran perilaku pengguna—dari kritis menjadi lebih berhati-hati, bahkan cenderung diam.
Pengamat komunikasi digital menilai, algoritma platform seperti Facebook memang memiliki peran besar dalam menentukan visibilitas konten. Namun transparansi terkait bagaimana algoritma tersebut bekerja masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya terjawab.
Di Indonesia, diskursus mengenai kebebasan berpendapat di ruang digital juga kerap bersinggungan dengan regulasi dan pengawasan konten. Hal ini menimbulkan dilema antara menjaga stabilitas informasi dan menjamin hak masyarakat untuk menyampaikan kritik.
Kasus yang dialami SHE menjadi potret kecil dari dinamika besar yang sedang berlangsung. Di satu sisi, media sosial membuka ruang demokratisasi informasi. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran ruang tersebut mulai menyempit, terutama bagi suara-suara yang dianggap “tidak sejalan”.
Apakah ini murni permainan algoritma, atau ada faktor lain yang lebih kompleks di baliknya? Pertanyaan ini masih terbuka, dan publik berhak mendapatkan jawaban yang transparan.
(Pewarta: IFA | Integritasnews.my.id)
