Jawa Barat, Integritasnews.my.id – Pernyataan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengimbau penghentian perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan, termasuk internal warga Nahdliyin.
Pasalnya, dalam dinamika konflik global yang berkembang, Iran dinilai sebagai pihak yang lebih dahulu diserang, sehingga langkah balasan yang dilakukan dipandang sebagai bentuk pertahanan diri.
Menanggapi hal tersebut, Saiful Huda Ems (SHE) menyampaikan kritik keras terhadap sikap PBNU yang dianggap tidak proporsional.
“Saya melihat ini aneh. Iran yang diserang lebih dulu, kok justru diminta berhenti dan memilih damai? Ini seperti membalik fakta. Yang memulai konflik harusnya yang pertama diminta menghentikan, bukan yang diserang,” tegas SHE.
Sorotan juga diarahkan kepada Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, yang dinilai memiliki rekam jejak kontroversial dalam manuver politik internasional, termasuk kunjungannya ke Israel dan pertemuannya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Ketum PBNU itu seharusnya memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh dunia Islam, bukan malah datang ke Israel dan bertemu Netanyahu. Itu melukai perasaan banyak umat Islam, termasuk warga Nahdliyin sendiri,” ujar SHE dengan nada kritis.
Menurutnya, imbauan damai dari PBNU kepada Iran dinilai tidak tepat sasaran dan berpotensi menimbulkan persepsi keberpihakan yang keliru.
“Kalau ada orang dikeroyok lalu dia melawan, masa yang disuruh berhenti justru yang jadi korban? Ini logika yang tidak adil. PBNU seharusnya lebih bijak membaca situasi global,” katanya.
Lebih lanjut, SHE juga menilai bahwa pernyataan PBNU tidak memiliki daya pengaruh signifikan dalam konteks geopolitik internasional.
“Bahkan tokoh besar seperti Prabowo Subianto atau Donald Trump saja belum tentu didengar oleh Iran. Lalu PBNU berharap apa? Ini terkesan hanya manuver yang tidak berdampak,” sindirnya.
Tak hanya itu, SHE juga menyinggung perlunya evaluasi internal di tubuh PBNU agar lebih fokus pada penguatan organisasi dan umat.
“PBNU sebaiknya introspeksi. Fokus mengurus umat, konsolidasi kader, dan memperkuat peran strategis. Jangan sibuk dengan manuver politik yang justru menimbulkan kontroversi,” tambahnya.
Ia bahkan membandingkan kepemimpinan saat ini dengan era Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang dinilai lebih matang dalam memainkan diplomasi global.
“Gus Dur itu manuvernya kelas dunia, tapi tetap punya pijakan kuat. Sekarang ini jangan sampai hanya gaya-gayaan tanpa substansi,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, SHE menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap organisasi Nahdlatul Ulama.
“Saya ini warga Nahdliyin. Kritik ini bentuk cinta. Tapi kalau manuvernya terus seperti ini, ya wajar kalau publik menilai itu sebagai langkah politik yang ‘kecentilan’,” pungkasnya.
Pewarta ifa
