Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
Pewarta: IFA – Integritasnews.my.id
Selasa, 7 April 2026
Di tengah memanasnya konflik geopolitik global yang melibatkan Iran, Israel, dan dukungan terbuka dari Amerika Serikat, sikap pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Presiden Prabowo Subianto dinilai belum menunjukkan ketegasan yang mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Pengamat politik Saiful Huda Ems (SHE) menilai, kondisi global saat ini tidak bisa disikapi dengan kehati-hatian yang berlebihan hingga berujung pada kesan gamang. Ia menyoroti bagaimana sejumlah negara seperti Pakistan, Turki, dan Qatar mulai menunjukkan keberpihakan politik yang lebih tegas dalam konflik kawasan, sementara Indonesia justru terkesan menahan diri secara berlebihan.
“Dalam situasi global yang penuh tekanan seperti ini, ketegasan sikap bukan hanya soal keberanian politik, tetapi juga menyangkut martabat bangsa,” ujar SHE dalam keterangannya.
Sorotan tajam juga diarahkan pada minimnya respons keras pemerintah terhadap berbagai insiden yang melibatkan korban dari Indonesia di wilayah konflik, termasuk tragedi yang menimpa prajurit Indonesia dalam misi internasional di Lebanon. Menurutnya, sikap diam atau terlalu diplomatis dalam situasi tertentu dapat ditafsirkan sebagai kelemahan, bukan kebijaksanaan.
Di sisi lain, hubungan Indonesia dengan Donald Trump dan dinamika politik global yang berkembang juga dinilai turut memengaruhi arah kebijakan luar negeri saat ini. SHE mengingatkan bahwa kedekatan dengan kekuatan besar dunia tidak boleh mengorbankan prinsip dasar kemerdekaan politik Indonesia.
“Indonesia sejak awal berdiri tidak dibangun untuk tunduk pada tekanan kekuatan global mana pun. Prinsip bebas aktif harus dimaknai sebagai keberanian mengambil sikap, bukan sekadar aman secara diplomatis,” tegasnya.
Lebih lanjut, SHE juga mengingatkan adanya potensi dinamika internal jika pemerintah tidak mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan aspirasi publik. Indonesia, menurutnya, memiliki sejarah panjang keterlibatan warganya dalam berbagai konflik internasional, yang menunjukkan adanya sensitivitas tinggi terhadap isu-isu global, khususnya yang berkaitan dengan kemanusiaan dan keadilan.
Namun demikian, ia tetap berharap situasi tidak berkembang ke arah yang mengkhawatirkan. SHE menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bentuk kepedulian terhadap arah kebijakan nasional, bukan provokasi.
“Harapan kita sederhana, pemerintah mampu berdiri tegak di atas kepentingan bangsa sendiri, tanpa harus terseret arus kepentingan global yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Indonesia,” pungkasnya.
Di tengah kompleksitas geopolitik dunia saat ini, publik menanti langkah konkret dan sikap tegas dari kepemimpinan nasional. Sebab dalam politik internasional, ketegasan seringkali menjadi bahasa yang lebih dihormati daripada sekadar kehati-hatian.
Pewarta ifa
