Www integritasnews my id
SURABAYA ,28 JUNI 2025- Di tengah derasnya arus informasi dan semangat keterbukaan, kejujuran tetap menjadi pilar utama dalam membangun relasi sosial dan kepercayaan publik. Namun, tidak semua orang mampu menjaganya. Seorang pemuda, sebut saja ER, menjadi perbincangan di lingkungan pertemanan dan komunitasnya karena satu hal: hobinya berbohong, dan ucapan-ucapannya yang nyaris tak pernah bisa dipegang.
ER dikenal cukup supel. Ia mudah bergaul, pandai berbicara, bahkan sering menjadi pusat perhatian di berbagai forum kecil. Sayangnya, di balik tutur kata yang meyakinkan, berulang kali janji-janji yang ia lontarkan hanya menjadi angin lalu. Rekan-rekannya menyebut, hampir semua perkataan ER sulit untuk dipercaya dari hal sederhana seperti janji bertemu hingga urusan pekerjaan atau proyek bersama.
"Dia selalu bilang 'pasti datang', 'tenang, sudah beres', atau 'nanti saya transfer', tapi ujungnya? Zonk semua," ungkap IF, salah satu sahabatnya yang merasa kecewa namun masih berharap ER bisa berubah.
Bohong sebagai Kebiasaan, Bukan Sekadar Kekhilafan
Dalam ilmu psikologi sosial, kebohongan berulang yang tidak disertai rasa bersalah bisa mengarah pada perilaku manipulatif atau bahkan gangguan kepribadian tertentu. Namun, dalam banyak kasus, kebiasaan berbohong lahir dari kegagalan seseorang dalam menghadapi kenyataan dan keengganan bertanggung jawab.
Kebiasaan ER berbohong telah menimbulkan efek domino. Tak hanya hubungan personal yang rusak, reputasi profesionalnya pun mulai diragukan. Beberapa pekerjaan lepas yang dulu datang menghampiri kini menjauh, karena ia dikenal tak bisa diandalkan.
Membangun Ulang Diri dari Reruntuhan Kepercayaan
Seorang tokoh pemuda di Surabaya, TD (bukan nama sebenarnya), menyatakan pentingnya transformasi karakter demi masa depan. “Orang yang terbiasa bohong sebenarnya sedang mengikis integritas dirinya sendiri. Tapi kabar baiknya: manusia bisa berubah. Asalkan mau jujur pada diri sendiri dan belajar dari konsekuensinya,” katanya saat ditemui tim IntegritasNews di kawasan Gubeng.
Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi selama pelaku kebohongan masih merasa semua baik-baik saja. "Pertama yang harus dilakukan adalah diam. Dengarkan orang-orang di sekitar. Tanyakan pada mereka: 'Apa yang kalian rasakan tiap kali saya bicara?' Karena kebenaran paling tajam bukan dari musuh, tapi dari teman yang sudah terlalu sering dikecewakan."
Dari Kejatuhan Menuju Kebangkitan
Meski ER belum secara terbuka mengakui kesalahannya, beberapa rekan berharap ia bisa menjadikan kritik sebagai bahan bakar perubahan. Sebab dalam hidup, tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.
"Dia itu sebenarnya anak baik. Punya potensi, pintar ngomong, dan bisa banget jadi pemimpin. Tapi semua akan percuma kalau mulutnya jadi senjata yang menusuk dari belakang," ujar IS, teman satu lingkarannya.
Kisah ER sejatinya bukan hanya tentang individu, tapi juga tentang kita semua bagaimana kebohongan kecil yang dibiarkan bisa menjadi monster besar yang merusak nama, relasi, dan masa depan.
Penutup:
Integritas adalah harga diri yang tak bisa dibeli. Kepada siapapun yang merasa pernah menjadi ‘ER’ dalam hidup ini, masih ada waktu untuk menata ulang jalan hidup. Kepercayaan yang runtuh bisa dibangun kembali, asal niat itu tumbuh dari hati yang benar.
"Kejujuran memang tak selalu mudah, tapi selalu benar. Dan dalam dunia yang penuh tipu daya, menjadi jujur adalah bentuk keberanian paling murni."
(Ifa)
