www integritasnews my id
Oleh: Seorang Sahabat | IntegritasNews.my.id
Di tengah riuhnya dunia yang sering kali hanya menyanjung kemenangan yang terlihat, ada sosok yang berjalan pelan namun teguh. Namanya tak selalu disebut, wajahnya tak muncul di layar kaca, tapi langkahnya mengubah nasib banyak jiwa. Namanya Ifa, seorang advokat. Tapi lebih dari sekadar profesi, ia adalah harapan bagi yang nyaris menyerah.
Pagi bisa jadi masih gelap ketika ia mulai menyiapkan langkah. Malam belum tentu jadi waktu istirahat. Sebab bagi Ifa, keadilan bukan sekadar perkara hukum; ia adalah panggilan nurani. Dan untuk itu, dia tidak pernah lelah.
"Kadang, perjuangan paling berat adalah ketika kita menolong orang yang bahkan tidak tahu kita sedang berjuang untuk mereka," kata seorang sahabat dekatnya, yang menjadi saksi senyap atas dedikasi Ifa selama ini.
Dalam ruang-ruang sempit pengadilan, lorong-lorong lembaga, hingga rumah-rumah sunyi penuh luka, Ifa hadir bukan untuk menjadi pahlawan. Ia hanya datang karena tak sanggup berpaling dari derita yang disembunyikan dunia.
Kita sering membayangkan advokat sebagai sosok tegas, kuat, berwibawa, penuh strategi. Tapi pada diri Ifa, ada sisi lain yang lebih dalam: kelembutan yang menjadi pelindung, keteguhan yang tidak menyerang tapi menyelamatkan. Ia menjadi tempat bersandar bukan karena kuasa, melainkan karena keikhlasan yang tak dibuat-buat.
Di balik jubah profesionalnya, Ifa memikul beban yang tak terlihat. Ia mendengar lebih banyak keluhan daripada pujian. Ia menyaksikan lebih banyak luka daripada kemenangan. Tapi langkahnya tak surut. Bahkan ketika pundaknya sendiri nyaris roboh.
Karena baginya, menjadi advokat adalah perpanjangan dari rasa peduli. Ia tidak hanya membela klien di atas kertas, tapi juga berdiri di sisi kemanusiaan yang sering terlupakan: mereka yang tak punya suara, tak punya daya, tak punya siapa-siapa.
Dalam banyak kasus yang ia tangani, tak jarang yang datang adalah mereka yang sudah hampir putus harapan. Perempuan korban kekerasan yang kehilangan arah. Anak-anak yang diseret nasib buruk orang dewasa. Kaum tertindas yang bahkan tidak tahu bagaimana memperjuangkan haknya.
Ifa tak pernah menjadikan kasus-kasus itu sebagai batu loncatan. Ia menanganinya dengan air mata, dengan peluh, dengan doa. Bukan untuk jadi populer. Bukan untuk dibayar mahal. Tapi karena ia percaya, di dunia yang keras ini, masih harus ada yang memilih untuk tetap lembut.
Seorang sahabat berkata, “Langit mencatatnya. Dan semesta tahu: bahwa ia sedang menanam kebaikan yang tak akan pernah sia-sia.”
Hari ini, nama Ifa mungkin belum masuk daftar “Tokoh Perubahan Tahun Ini”. Ia belum tampil di atas panggung penghargaan, atau disebut dalam berita utama. Tapi di mata mereka yang pernah dia bantu, ia adalah penyelamat.
Ia adalah pelita kecil di tengah malam kelam.
Ia adalah tangan yang tetap terulur meski tak banyak yang menyadari.
Ifa, jika kau membaca ini—ketahuilah, langkahmu tidak sia-sia. Ketulusanmu adalah cahaya yang menuntun banyak jiwa kembali pulang. Jangan lelah menjadi baik. Jangan berhenti berjalan. Sebab sekalipun dunia tak memberi tepuk tangan, Tuhan dan semesta selalu tahu: engkau telah menjadi penegak kebenaran, dengan atau tanpa sorotan.
Dan itu, sahabatku, adalah kemenangan yang sejati.
Editor: Redaksi IntegritasNews
Email redaksi: redaksi@integritasnews.my.id

