wwwintegritasnewsmy id
Besuki, Jawa Timur, 19 JULI 2025 – Di tengah hiruk pikuk wacana kebangsaan yang semakin kabur maknanya, seorang warga dari Besuki mengirimkan catatan reflektif yang menohok kesadaran kita tentang siapa sebenarnya bangsa ini, kepada siapa kita patut mengirim doa, dan pada pemikiran siapa kita sebaiknya bercermin.
Adalah Sang D.P.O begitu ia menamakan dirinya, mengambil semangat dari dua sosok: tokoh spiritual eksistensialis Nusantara, Siti Jenar, dan status "buronan" dalam tanda kutip, yang merujuk pada perasaan keterasingan di tengah bangsa yang kehilangan arah. Dalam pesannya, ia menyampaikan cita-cita kelak bila dikaruniai anak perempuan, akan ia beri nama "Gievara Fidelia Malika" gabungan dari Che Guevara, Fidel Castro, dan Tan Malaka. Sebuah nama yang memuat perlawanan, kesetiaan, dan kepemimpinan. Sementara bila anaknya laki-laki, maka tak akan ia ragu menamai langsung: Tan Malaka.
“Karena saya paham betul,” tulisnya, “bahwa suatu ideologi, baik Komunis, Kapitalis, atau Agamis sekalipun, hanya sebatas siapa yang menang dan siapa yang kalah.”
Menurutnya, narasi ideologi seringkali bukan tentang benar atau salah secara substansi, melainkan tentang siapa yang memenangkan pertarungan politik, ekonomi, dan narasi sejarah. Ia menyayangkan bagaimana Indonesia, yang konon katanya menganut semangat Nasionalis-Agamis, justru lebih sering dipenuhi jiwa-jiwa maling berkedok nasionalisme.
Dalam catatannya yang ditulis pada siang hari yang ia sebut "cerah namun muram", ia menolak mentah-mentah anggapan bahwa kekagumannya terhadap tokoh-tokoh revolusioner adalah hasil dari "doktrin CIA atau para jenderal korup Orde Baru." Ia menegaskan bahwa pandangannya lahir dari pembacaan kritis atas sejarah dan realitas sosial politik bangsa ini.
“China, Rusia, dan Korea Utara nyaman dengan Komunisme. Amerika, Inggris, dan Jerman nyaman dengan Kapitalisme. Negara-negara Timur Tengah nyaman dengan Ideologi Agamisnya. Tapi Indonesia? Sudah terlalu nyaman dengan jiwa malingnya.”
Di akhir pesannya, Sang D.P.O menuliskan satu kalimat yang membawa kita pada renungan yang dalam:
“Sejarah itu nyata. Tapi sering kali ditulis oleh si pemenang yang salah. Bukan oleh mereka yang benar namun kalah karena konspirasi dan kecurangan.”
Maka tak heran, ia pun menghantarkan Al-Fatihah untuk Datuk Ibrahim Tan Malaka seorang pemikir, pejuang kemerdekaan, dan revolusioner sejati yang hingga kini masih jadi sosok kontroversial di tengah kabut sejarah bangsa ini.
Satu hal yang pasti: Indonesia butuh lebih banyak yang berani berpikir, bukan hanya ikut arus. Butuh lebih banyak yang berani mengingat Tan Malaka, bukan sekadar merayakan yang menang dalam sejarah, tapi juga memahami siapa yang dikalahkan secara tidak adil.
Tulisan ini merupakan opini dari kontributor. Segala isi dan pandangan adalah tanggung jawab penulis, tidak selalu mencerminkan sikap redaksi Integritas News. Namun kami percaya bahwa dalam demokrasi, semua suara layak disampaikan selama punya niat baik, dasar yang kuat, dan semangat untuk mencerdaskan bangsa.
Jika Anda ingin mengirimkan opini, esai, atau tulisan reflektif Anda, hubungi redaksi kami di: redaksi@integritasnews.my.id.
Oleh: Sang D.P.O - Siti Jenar dari Besuki City |
Pewarta: Ifa
