IntegritasNews.my.id – Pewarta: Ifa
Jakarta – Jumat (29/8/2025), kemarahan publik atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang tewas saat mengikuti aksi demonstrasi di Ibu Kota, semakin meluas. Peristiwa tragis itu kini menjadi pemicu gelombang desakan agar Presiden Prabowo Subianto segera mengevaluasi bahkan mencopot Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatannya.
Lebih dari dua ratus organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam koalisi besar—mulai dari YLBHI, KontraS, ICW hingga Lokataru Foundation—menyuarakan kritik keras terhadap kepolisian yang dinilai gagal menjalankan amanat konstitusi untuk melindungi rakyat. Mereka menilai tragedi Affan bukan sekadar insiden, melainkan bukti telanjang wajah represif aparat yang berulang kali menelan korban jiwa.
“Permintaan maaf tidak menyembuhkan luka, tidak menghidupkan korban. Pertanggungjawaban nyata harus ditunjukkan, dimulai dengan pencopotan Kapolri. Aparat yang terbukti melakukan kekerasan wajib diproses hukum,” tegas Delpedro Marhaen, Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, dalam keterangannya.
Catatan Buruk yang Menghantui Polri
Kasus Affan menambah panjang daftar kelam yang membayangi institusi kepolisian. Publik masih belum lupa dengan Tragedi Kanjuruhan 2022 yang menewaskan ratusan suporter sepak bola akibat gas air mata, hingga kasus pembunuhan berencana oleh Ferdy Sambo yang mencoreng wajah penegakan hukum. Belum lagi sederet peristiwa kekerasan aparat dalam menangani massa aksi di berbagai daerah.
Koalisi masyarakat sipil menilai akumulasi tragedi itu menegaskan lemahnya komitmen reformasi internal Polri. “Ada persoalan serius dalam kepemimpinan dan kultur kekuasaan. Selama ini janji reformasi hanya berhenti di atas kertas,” ujar salah satu pernyataan sikap.
Tokoh Publik Ikut Bersuara
Desakan agar Kapolri mundur tak hanya datang dari aktivis dan akademisi. Sejumlah figur publik turut melayangkan protes simbolis. Aktor Nicholas Saputra, misalnya, menuliskan komentar singkat namun tegas pada unggahan berita resmi: “Mundur, Pak.”
Musisi Duta Sheila On 7 pun mengekspresikan duka dengan mengunggah latar hitam dan emoji bunga layu, sementara pendakwah Felix Siauw menyamakan gaya represif aparat dengan tindakan militer asing: “Sulit dipercaya ini Indonesia, suasananya lebih mirip negeri pendudukan.”
DPR Bergerak, Istana Masih Bungkam
Di Senayan, Komisi III DPR RI menyatakan akan memanggil Kapolri dalam rapat kerja khusus membahas kasus ini. Namun publik menunggu sikap nyata dari Presiden Prabowo Subianto yang hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait desakan pencopotan Kapolri.
Gelombang tekanan publik dipandang tak bisa lagi diabaikan. Kasus Affan Kurniawan dianggap sebagai titik balik yang menentukan: apakah pemerintah sungguh mendengar jeritan rakyat, atau memilih mempertahankan status quo dengan segala konsekuensinya.
Tuntutan Transparansi dan Keadilan
Koalisi masyarakat sipil mendesak agar investigasi independen segera dibentuk, bukan hanya diserahkan pada mekanisme internal kepolisian. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari impunitas dan memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum.
Affan Kurniawan kini telah tiada, namun namanya menjelma simbol perlawanan atas praktik kekerasan aparat yang terus berulang. Publik menunggu jawaban: apakah pemerintah berani mengambil langkah tegas, atau justru membiarkan luka bangsa ini terus menganga tanpa penyelesaian.
Respons Kepolisian
Hingga berita ini diturunkan, pihak Mabes Polri belum memberikan keterangan resmi terkait desakan pencopotan Kapolri. Sementara itu, sejumlah pejabat kepolisian menegaskan bahwa investigasi internal tengah berjalan dan menampik anggapan bahwa aparat bertindak di luar prosedur.
Polri menyatakan berkomitmen melakukan evaluasi serta siap membuka ruang komunikasi dengan masyarakat sipil guna menjaga kepercayaan publik. Namun, publik menunggu apakah langkah tersebut cukup untuk meredam gelombang desakan yang kian meluas
