Integritasnews.my.id | Pewarta: Ifa
Jakarta, 24 Agustus 2025
H-4 menjelang aksi besar yang rencananya akan digelar di depan Gedung DPR/MPR RI, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah mulai bergerak menuju ibu kota. Gelombang perlawanan mahasiswa ini menjadi perhatian publik, mengingat peran historis mahasiswa dalam setiap momentum penting bangsa.
Dari berbagai informasi lapangan yang dihimpun, rombongan mahasiswa mulai berangkat secara bertahap menuju titik kumpul nasional di Senayan. Mereka datang dengan semangat juang, mengusung aspirasi dan kegelisahan rakyat yang selama ini dirasakan semakin menumpuk.
“Mahasiswa ni bos, bukan mahasewa,” begitu jargon yang terdengar lantang di setiap titik keberangkatan. Kalimat itu mencerminkan tekad bahwa gerakan kali ini bukan sekadar formalitas turun ke jalan, melainkan sebuah konsistensi perjuangan moral, sosial, dan politik demi masa depan bangsa.
Sejarah Panjang Perjuangan Mahasiswa
Gerakan mahasiswa di Indonesia sejak dulu menjadi motor perubahan. Dari era 1966 yang menumbangkan rezim lama, peristiwa 1998 yang menandai runtuhnya Orde Baru, hingga berbagai aksi penolakan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, mahasiswa senantiasa berada di garda depan.
Kini, di tengah situasi politik yang dinilai semakin sarat kepentingan elit dan oligarki, mahasiswa kembali memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat.
Isu yang Mengemuka
Meski setiap organisasi mahasiswa memiliki fokus tuntutan masing-masing, terdapat benang merah yang mengikat, yakni kritik terhadap kebijakan negara yang dianggap menyimpang dari amanat konstitusi.
Beberapa isu yang menjadi sorotan di antaranya:
Penolakan terhadap praktik politik dinasti dan oligarki.
Desakan agar wakil rakyat benar-benar berpihak pada kepentingan publik.
Tuntutan atas transparansi dan akuntabilitas kebijakan negara.
Menuju Momentum Besar
H-4 ini menjadi babak awal perjalanan mahasiswa menuju “hari penentuan”. Jalanan menuju Senayan diprediksi akan dipenuhi rombongan mahasiswa dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali dan Nusa Tenggara.
Mereka membawa pesan yang sama: Indonesia harus kembali pada cita-cita reformasi dan demokrasi sejati.
Suara Moral, Bukan Kepentingan
Aksi mahasiswa kali ini diyakini bukan sekadar gerakan instan. “Ini suara moral, bukan gerakan pesanan. Kami hadir untuk rakyat, bukan untuk kepentingan kelompok,” tegas salah satu koordinator aksi di Surabaya sebelum bertolak ke Jakarta.
Semangat itulah yang membuat publik menaruh harapan besar. Bahwa mahasiswa tetap teguh menjaga marwah perjuangan, menjadi penjaga demokrasi, sekaligus pengingat bagi para pemegang kekuasaan agar tidak melupakan amanah rakyat.
Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, aksi besar mahasiswa masih dalam tahap persiapan. Informasi yang disajikan merupakan hasil pantauan lapangan dan sumber terpercaya, tanpa bermaksud menggiring opini tertentu.
Integritasnews.my.id
Pewarta:
R. PRIHATANTO, S.Si
Editor: Ifa
