INDONESIA GELAP: Video Aksi Protes Kreatif Soroti Luka Demokrasi dan Tuntutan Tegas Hukum Mati bagi Koruptor


 Integritasnews.my.id – 
Sabtu, 6 September 2025.

Sebuah video aksi protes kreatif beredar luas dan menyita perhatian publik. Dalam video tersebut, sejumlah warga memperlihatkan kertas bertuliskan pesan-pesan simbolik yang dianggap mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Adegan pertama menampilkan seorang perempuan membawa tulisan “Polri untuk masyarakat” yang kemudian dicoret, diganti dengan pesan “Rest in Power Affan Kurniawan”. Setelah itu, seorang pria menunjukkan tulisan “Bangkit melawan / tunduk ditindas!” disusul pesan singkat “1312” sebagai kritik simbolis.

Berbagai pesan lain turut ditampilkan: “Keadilan untuk korban”, “RIP Indonesia Democracy”, “No Justice No Peace!”, hingga “= Save Rakyat”. Aksi ditutup dengan seorang perempuan yang memperlihatkan tulisan “Tolak Pelaku Kekerasan” lalu menyobek kertas tersebut, menegaskan penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.

Narasi yang menyertai video ini menyoroti keprihatinan mendalam atas situasi bangsa. Dalam narasi itu disebutkan bahwa apabila Indonesia ingin benar-benar maju, maka diperlukan langkah tegas, termasuk desakan agar hukuman mati bagi koruptor tidak hanya menjadi wacana.

“Simple saja, kalau tidak mau dihukum mati, jangan sekali-kali melakukan bisnis beternak koruptor dan korupsi,” bunyi salah satu pesan dalam narasi.



Video ditutup dengan doa: “Kami berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk keselamatan seluruh rakyat. Bergeraklah sampai kita menang. INDONESIA GELAP.”

Aksi simbolik ini menjadi refleksi keresahan sebagian masyarakat sekaligus tamparan moral agar pemerintah, aparat penegak hukum, dan para pemangku kepentingan tidak menutup mata atas tuntutan rakyat.


Catatan Redaksi:

Tulisan pada kertas dalam video sepenuhnya merupakan ekspresi masyarakat yang terlibat dalam aksi simbolik tersebut. Integritasnews.my.id hanya menayangkan dalam konteks pemberitaan, dan isi pesan tidak selalu mencerminkan sikap resmi redaksi.

(Ifa)