Puisi “Rindu di Malam Hari”: Ekspresi Sunyi yang Menjadi Suara Hati di Tengah Gelap Malam


Www Integritasnews my id

Jakarta, 20 September 2025,Integritasnews.my.id  –Di balik riuh kehidupan, selalu ada ruang sunyi yang hanya bisa disentuh oleh kata-kata. Malam, dengan segala keheningan dan pesonanya, sering kali menjadi saksi lahirnya kerinduan yang tak terucap. Kerinduan itu kemudian dituangkan dalam bait-bait puisi yang menyentuh, salah satunya berjudul “Rindu di Malam Hari.”

Puisi ini lahir dari perenungan panjang tentang sunyi malam yang tidak hanya menghadirkan sepi, tetapi juga menyalakan ruang batin untuk meresapi rasa rindu. Lewat larik-larik sederhana namun penuh makna, penulis menghadirkan potret emosi yang bisa dialami siapa saja—mereka yang menunggu, mereka yang mengingat, atau bahkan mereka yang kehilangan.


Puisi sebagai Media Ekspresi

Dalam bait pertamanya, puisi ini menghadirkan bulan dan bintang sebagai saksi diam. “Bulan menatap dengan wajah sepi, bintang berkelip bagai bisikan hati,” tulisnya. Imaji itu seakan membawa pembaca ke langit malam, menjadikan rindu sebagai pengalaman universal yang bisa dipahami tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.


Angin malam kemudian hadir bukan sekadar fenomena alam, tetapi simbol pembawa pesan. Setiap desirnya seolah menyampaikan kerinduan yang ingin dikirimkan, walau tak pernah sampai pada tujuan.


Kerinduan yang Menyatu dengan Doa

Lebih jauh, puisi ini menegaskan bahwa rindu bukan sekadar perasaan, melainkan doa yang terucap dalam diam. “Dalam gelap aku berdoa, semoga kau pun merasakan yang sama.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kerinduan adalah energi spiritual—sebuah pengharapan yang mengikat dua jiwa, meski dipisahkan oleh jarak dan waktu.

Rindu hadir bukan hanya di ruang imajinasi, tapi juga dalam laku keseharian. Malam yang panjang seakan enggan berakhir, karena kerinduan tidak pernah tahu batas. Ia menemani hingga pagi, menjadi sahabat sunyi yang setia.


Literasi yang Menghidupkan Jiwa

Puisi “Rindu di Malam Hari” bukan sekadar kumpulan kata, melainkan pengingat bahwa manusia selalu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan rasa. Dalam dunia yang semakin bising oleh hiruk-pikuk informasi, karya sastra seperti ini menghadirkan jeda—tempat kita berhenti sejenak untuk kembali mendengar suara hati.

Melalui literasi, pembaca diajak untuk merasakan keindahan bahasa, menghidupkan kembali imajinasi, dan menyelami kedalaman perasaan yang mungkin sering diabaikan. Puisi ini menjadi bukti bahwa kata-kata masih memiliki kekuatan besar untuk menyentuh nurani.


Penutup

Integritasnews.my.id melihat karya ini sebagai bagian penting dari ruang literasi publik yang harus terus dihidupkan. Bahwa di balik berita politik, ekonomi, dan sosial, masih ada ruang bagi puisi untuk bicara tentang hal-hal yang paling personal: rindu, doa, dan harapan.

“Rindu di Malam Hari” bukan hanya puisi tentang kerinduan, tetapi juga cermin dari jiwa manusia yang selalu mencari kehangatan di tengah sepi. Dan barangkali, lewat puisi ini, pembaca bisa menemukan dirinya sendiri dalam larik-larik yang ditulis dengan hati.


🖋 Integritasnews.my.id – Pewarta :

R. PRIHATANTO, S.Si

Editor : Ifa