Oleh: Ifa | Integritasnews.my.id
Minggu, 12 Oktober 2025
Indonesia hari ini kembali menandai sebuah momentum penting dalam perjalanan kebudayaan nasional. Tepat pada 12 Oktober 2025, bangsa ini memperingati Hari Museum Nasional (HMN) — sebuah refleksi sejarah sejak ditetapkannya 12 Oktober 1962 sebagai tonggak lahirnya kesadaran nasional tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan sejarah melalui museum.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi, peringatan Hari Museum Nasional tahun ini menjadi pengingat keras tentang identitas bangsa: bahwa kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan akar sejarah, nalar budaya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Museum: Bukan Sekadar Gedung Penyimpan Barang Kuno
Museum sejatinya bukan hanya ruang hening berisi benda-benda mati. Ia adalah “penyimpan ingatan kolektif bangsa”, tempat di mana setiap artefak berbicara tentang perjalanan panjang peradaban Nusantara. Dari prasasti batu hingga naskah kuno, dari senjata tradisional hingga busana adat — semua adalah penyaksi bisu perjalanan panjang manusia Indonesia yang berjuang mempertahankan eksistensi dan jati diri.
Namun sayangnya, fungsi museum selama ini sering kali hanya dipahami sebatas destinasi wisata edukatif. Padahal, museum adalah sumber pengetahuan hidup — ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sebagaimana diungkapkan oleh para pemerhati budaya, museum harus menjadi tempat “hidupnya memori bangsa”, bukan sekadar tempat berdebu yang jarang dikunjungi.
Tantangan di Era Digital: Mengemas Sejarah Secara Menarik
Tantangan terbesar museum-museum di Indonesia hari ini adalah bagaimana menghadirkan sejarah dalam format yang relevan dan menarik bagi generasi muda. Dunia yang serba digital menuntut perubahan cara bercerita:
melalui teknologi augmented reality (AR), tur virtual, hingga pameran interaktif yang mampu membuat pengunjung merasa menjadi bagian dari kisah yang diceritakan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga terus mendorong digitalisasi museum, agar khazanah peninggalan sejarah dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa batas ruang dan waktu.
Namun, upaya itu tentu tidak cukup tanpa kesadaran publik untuk mencintai dan mengunjungi museum sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menjaga Warisan, Merawat Ingatan
Peringatan Hari Museum Nasional bukan hanya seremoni tahunan. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh anak bangsa untuk ikut menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya yang tersimpan di museum-museum Indonesia.
Setiap arca, setiap prasasti, setiap foto perjuangan yang terpajang di balik kaca adalah bukti nyata jatidiri bangsa yang tidak boleh dilupakan.
Bila kita abai terhadap museum, sejatinya kita tengah menghapus sebagian dari memori bangsa kita sendiri.
Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya, dan museum adalah jantung dari penghargaan itu.
Momentum untuk Mengunjungi dan Menghidupkan Museum
Hari ini, 12 Oktober 2025, menjadi momentum untuk mengajak masyarakat — terutama generasi muda — kembali mencintai museum.
Kunjungan ke museum bukan sekadar wisata, tetapi perjalanan spiritual menelusuri jejak sejarah dan kebijaksanaan masa lampau.
Mari jadikan Hari Museum Nasional bukan sekadar peringatan, tetapi gerakan nasional untuk menghidupkan museum sebagai pusat inspirasi dan pendidikan karakter bangsa.
Museum bukan ruang sunyi, tapi ruang kesadaran.
Dari museum, kita belajar menjadi manusia Indonesia yang utuh:
berakar pada masa lalu, berdiri di masa kini, dan menatap masa depan dengan kebanggaan.
🟤 Redaksi: Integritasnews.my.id
🖋️ Pewarta: Ifa
📅 Tanggal Publikasi: Minggu, 12 Oktober 2025
📍 Tema: Hari Museum Nasional – Menjaga Memori, Merawat Identitas Bangsa
