BERITA OPINI – INTEGRITASNEWS.MY.ID
Sabtu, 25 Oktober 2025 | Pewarta: Ifa
Ucapan yang kasar dan sikap merasa paling berkuasa kini menjadi wajah baru kesombongan modern. Padahal hidup ini hanya sementara — dan di atas langit, masih ada langit.
Surabaya - Di tengah kehidupan yang semakin keras dan penuh ambisi, banyak orang lupa makna menjadi manusia. Lupa bahwa kita semua hanyalah raga sementara yang suatu hari akan kembali ke tanah. Lupa bahwa kekuasaan, jabatan, dan popularitas hanyalah titipan singkat — bukan alasan untuk berlagak seolah dunia milik sendiri.
Kini, di banyak ruang publik, terutama media sosial, ucapan kasar dan merendahkan menjadi hal biasa. Orang dengan mudah melontarkan kata-kata tajam tanpa berpikir panjang. “Cuma bercanda,” begitu alasannya. Namun dari candaan yang tak dijaga, bisa lahir luka yang dalam. Dari omongan yang keras, bisa tumbuh kebencian dan kehancuran hubungan antar manusia.
Padahal, menjaga ucapan adalah tanda kematangan hati. Orang bijak tidak perlu meninggikan suara untuk menunjukkan kekuatan, dan orang besar tidak perlu merendahkan orang lain untuk terlihat tinggi.
Kesombongan, dalam bentuk apapun, selalu menjadi tanda kelemahan jiwa — bukan kekuatan.
Hidup ini hanya sekali, dan tidak selamanya. Nafas bisa berhenti kapan saja. Maka sebelum lidah menjadi sumber penyesalan, lebih baik diam dalam kebijaksanaan daripada bicara dalam kesombongan.
Sebab, sebagaimana pepatah lama berkata, “Omongan itu doa, dan lidah lebih tajam dari pedang.”
Marilah kita belajar menjadi manusia yang lebih berhati-hati dalam berucap. Karena kata-kata memiliki daya yang luar biasa: bisa menumbuhkan cinta, tapi juga bisa menyalakan api permusuhan. Dan pada akhirnya, yang akan dikenang dari diri seseorang bukan seberapa keras ia berbicara, tapi seberapa dalam ia meninggalkan kebaikan.
Penutup:
Hidup bukan soal siapa yang paling tinggi, tapi siapa yang paling rendah hati.
Karena sejatinya, di atas setiap langit kesombongan, selalu ada langit kerendahan hati yang lebih tinggi.
