Baturaja, Ogan Komering Ulu – Senin, 10 November 2025 | Integritasnews.my.id
Perjalanan karier seorang pengacara kerap kali penuh liku dan ketegangan. Dari ruang sidang yang panas hingga meja perundingan yang dingin, dari menghadapi aparat penegak hukum hingga memperjuangkan hak warga tertindas — semua menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk integritas seorang advokat sejati. Begitulah jejak langkah Mas Sutasin, S.H., seorang pengacara asal Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), yang menapaki dunia hukum dengan ketekunan, keberanian, dan semangat keadilan yang tak pernah padam.
Langkah awal: menyelami dunia litigasi kriminal
Setelah resmi menyandang gelar Sarjana Hukum, langkah pertama Mas Sutasin dimulai di dunia litigasi kriminal. Kasus perdananya adalah perkara pencurian kecil yang ia tangani bersama seorang senior. Meski sederhana, kasus tersebut menjadi pengalaman berharga yang menguji nyali dan ketajamannya dalam berpikir.
Di ruang sidang Pengadilan Negeri, adrenalin berpacu kencang. Ia harus menyiapkan dokumen, meneliti bukti, hingga menghadapi saksi yang enggan bekerja sama. “Berhadapan dengan saksi yang tidak kooperatif dan tekanan dari penyidik, saya belajar mengendalikan emosi dan tetap fokus pada argumen hukum,” kenangnya.
Hasil dari kerja keras itu tak sia-sia. Meski klien tidak sepenuhnya bebas, hukuman berhasil dikurangi menjadi hukuman percobaan. Sebuah capaian awal yang menjadi titik balik bagi kepercayaan diri seorang pengacara muda yang baru saja menapaki dunia profesional.
Menyelami ranah korporasi: kontrak dan diplomasi hukum
Selepas sukses di ranah litigasi, Mas Sutasin menantang dirinya memasuki dunia hukum korporasi, tempat presisi dan kehati-hatian menjadi senjata utama. Dalam proyek awalnya, ia tergabung dalam tim yang menyusun perjanjian kerja sama antara perusahaan lokal dengan mitra asing.
Ia tak hanya menulis kontrak, tetapi juga melakukan due diligence dan negosiasi klausul penting yang menentukan nasib bisnis bernilai miliaran rupiah. Tantangan terbesarnya muncul dari perbedaan budaya bisnis dan bahasa hukum lintas negara. “Saya belajar bahwa setiap kata dalam kontrak memiliki konsekuensi hukum. Tak boleh ada satu kalimat pun yang menimbulkan celah,” tuturnya.
Kontrak yang ia tangani berhasil diselesaikan tepat waktu, bahkan menjadi pondasi kerja sama yang bertahan hingga bertahun-tahun. Proyek itu membuka jalan bagi Mas Sutasin untuk dipercaya memimpin perundingan-perundingan besar berikutnya, membuktikan bahwa ketelitian dan integritas adalah kunci utama di dunia korporasi.
Mengabdi untuk kemanusiaan: menjadi pengacara HAM
Namun, karier hukum bagi Mas Sutasin tak hanya soal bisnis dan pengadilan. Ada panggilan nurani yang membawanya ke ranah hak asasi manusia (HAM). Ia bergabung dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang menangani kasus pelanggaran tanah oleh perusahaan tambang terhadap warga desa.
Di sana, ia bukan hanya berhadapan dengan berkas dan pasal, melainkan juga dengan penderitaan nyata masyarakat kecil. Ia ikut turun langsung ke lapangan, mengumpulkan bukti, menemui saksi, dan menyusun permohonan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Perjuangan ini tidak mudah. Tekanan datang dari berbagai arah, termasuk intimidasi dan keterbatasan akses dokumen resmi. Namun, keteguhannya membuahkan hasil: Komnas HAM mengeluarkan keputusan interim yang melindungi hak-hak warga selama proses hukum berlangsung. “Keadilan bukan hanya milik mereka yang kuat, tapi juga hak setiap warga negara yang tertindas,” ujarnya tegas.
Pelajaran dari dunia advokat: antara tekanan, etika, dan ketekunan
Dari ruang sidang hingga ruang negosiasi, dari konflik tanah hingga meja konsultasi perusahaan, Mas Sutasin merangkum banyak pelajaran berharga. Ia menegaskan bahwa profesi advokat bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan moral untuk menegakkan hukum dengan etika.
Beberapa prinsip yang ia pegang teguh di antaranya:
Ketekunan. Banyak perkara memakan waktu bertahun-tahun, namun kesabaran adalah bagian dari kemenangan.
Etika dan integritas. Menjaga rahasia klien dan menjunjung kejujuran profesional adalah harga mati.
Komunikasi yang jernih. Baik dalam menyusun kontrak maupun menyampaikan pleidoi di depan hakim, kemampuan berkomunikasi menentukan hasil.
Belajar tanpa henti. Dunia hukum terus berubah, dan seorang pengacara sejati harus selalu memperbarui pengetahuannya.
Dari pengacara muda ke pembela nilai
Kini, perjalanan Mas Sutasin, S.H. dari Baturaja, Ogan Komering Ulu, menjadi inspirasi bagi banyak rekan sejawat dan generasi muda hukum di Indonesia. Ia membuktikan bahwa jalan seorang pengacara bukan hanya tentang memenangkan perkara, tetapi juga mempertahankan nurani dan keadilan di tengah badai kepentingan.
Dengan rekam jejak yang dimulai dari kasus kecil hingga isu kemanusiaan nasional, Mas Sutasin menunjukkan bahwa profesi advokat adalah bentuk pengabdian — bukan sekadar profesi.
Laporan: Pewarta IFA
Editor: Redaksi Integritasnews.my.id
Sumber inspirasi: Mas Sutasin, S.H.
Tepat – Lugas – Konsisten
