Megawati Bukan Sekadar Tokoh Sepuh: Kritik PSI Dinilai Serangan Dangkal yang Keliru Sasaran


Jakarta,29 November 2025 IntegritasNews.my.id — Pernyataan salah satu politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang menyebut Megawati Soekarnoputri sebagai “nenek-nenek yang memimpin partai puluhan tahun” memicu respons luas di publik. Banyak kalangan menilai komentar tersebut tidak hanya meremehkan, tetapi juga mencerminkan ketiadaan perspektif sejarah terhadap peran Megawati dalam perjalanan politik Indonesia.

Komentar bernada personal itu dinilai keluar dari konteks kritik politik yang sehat, terlebih karena diarahkan pada sosok yang memiliki catatan panjang dalam konsolidasi demokrasi sejak era Reformasi. Megawati bukan sekadar pemimpin partai yang telah berusia senja—melainkan figur yang berada di titik-titik paling krusial republik ini, dari masa transisi politik hingga stabilisasi partai modern.


Figur Sentral di Masa Genting Politik Nasional

Pengamat politik menilai bahwa Megawati memiliki posisi yang tidak dapat disederhanakan hanya melalui penyebutan usia. Ia merupakan simbol perlawanan terhadap rezim otoriter pada 1990-an, menjadi poros demokrasi di awal Reformasi, hingga memimpin PDI Perjuangan menjadi salah satu partai dengan basis elektoral paling stabil selama lebih dari dua dekade.

Stabilitas partai, menurut analis, tidak lahir dari popularitas instan ataupun serangan-serangan personal, melainkan dari rekam jejak, ketahanan, dan kemampuan membaca momentum politik dalam jangka panjang. Dalam konteks itu, Megawati dipandang sebagai salah satu aktor politik yang tetap memiliki relevansi meskipun dinamika nasional terus berubah.


Serangan Personal Dinilai Tidak Mendidik Demokrasi

Sejumlah pakar menilai kritik yang diarahkan kepada Megawati seharusnya dapat dikembangkan dalam ruang argumentatif yang substansial—misalnya soal keputusan strategis partai, sikap politik, atau arah kebijakan. Namun ketika kritik berubah menjadi serangan ad hominem berbasis usia, maka diskursus publik justru mundur dan kehilangan nilai edukatif.

“Dalam demokrasi, mengkritik tokoh publik itu wajar dan sah. Yang bermasalah adalah ketika kritik berubah menjadi hinaan fisik atau merendahkan orang berdasarkan umur,” ujar seorang analis komunikasi politik. “Demokrasi dibangun atas dasar gagasan, bukan degradasi personal.”


Tokoh yang Tak Selalu Populer, Namun Tetap Punya Bobot Politik

Meski Megawati kerap menjadi sasaran kritik, baik dari lawan politik maupun kelompok masyarakat tertentu, pengaruhnya dalam perpolitikan Indonesia tetap tidak dapat dipandang enteng. Ia tetap menjadi figur yang dihormati oleh lawan maupun kawan politik, bahkan oleh generasi baru yang tidak mengalami langsung era transisi Reformasi.

Daya tahannya dalam politik inilah yang membuat banyak pihak menilai bahwa penyebutan dirinya sebagai “nenek-nenek” bukanlah kritik, melainkan bentuk penyempitan makna kepemimpinan.


Sejarah Mencatat Ketahanan, Bukan Ejekan Sesaat

Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa komentar nyaring yang dilontarkan demi sorotan publik sering kali hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Sebaliknya, tokoh yang konsisten membangun pengaruh secara bertahun-tahun—bahkan di tengah kritik—akan tetap tercatat sebagai bagian dari perjalanan republik.

Bagi sejumlah kalangan, Megawati tetap dipandang sebagai salah satu halaman penting dalam sejarah politik Indonesia, terlepas dari pro dan kontra terhadap keputusan-keputusan politiknya.


Pewarta: ifa