Integritasnews.my.id – Aceh | Pewarta: IFA
Mereka bukan sekadar anak-anak. Mereka adalah saksi hidup dari kengerian yang tak seharusnya ditanggung pada usia belia. Dalam bencana besar yang menimpa Aceh beberapa waktu lalu, tubuh mereka pernah tertimbun lumpur, terseret reruntuhan bangunan, hingga hanyut terbawa derasnya arus air yang mengamuk tanpa ampun.
Di mata mereka, dunia sempat berubah menjadi gelap. Jeritan manusia seakan hilang ditelan gemuruh air, sementara tangan-tangan kecil itu berjuang mencari tempat berpijak, sekecil apa pun harapan yang tersisa. Kematian berada tepat di depan mata mereka — begitu dekat, begitu nyata. Namun takdir memilih lain: mereka bertahan. Mereka hidup.
Kini mereka duduk kembali di ruang belajar darurat, sebagian masih menggigil ketika suara hujan turun, sebagian hanya mampu memeluk diri sendiri saat ingatan buruk itu menampar ulang di kepala. Luka fisik mungkin telah sembuh, tetapi luka batin tak semudah itu hilang. Trauma masih membayangi langkah kecil mereka menuju hari depan.
Yang menyayat, tawa mereka hari ini belum tentu sepenuhnya tawa. Ada getar kecil pada suara yang berusaha kuat. Ada mata yang sesekali kosong menatap jauh, seolah mencari orang yang dahulu bersama mereka — namun tak lagi ada.
Harapan Baru dari Reruntuhan
Meski begitu, di balik tragedi yang menguras air mata, tersimpan secercah cahaya. Anak-anak ini tetap tumbuh dengan keberanian yang tak biasa. Ada yang mulai bercita-cita menjadi dokter untuk menolong korban bencana, ada yang ingin menjadi tentara, guru, bahkan pemimpin negeri. Mereka ingin memastikan tidak ada lagi yang harus melewati jalan penuh air mata yang pernah mereka tapaki.
Jika kelak mereka terpanggil menjadi pemimpin bangsa, biarlah mereka membawa ingatan ini sebagai bahan bakar untuk menjaga alam, memperbaiki tata ruang, memperkuat mitigasi, dan memastikan negara hadir bukan setelah korban berjatuhan, tetapi sebelum semuanya terlambat.
Seruan untuk Pemerintah: Jangan Tunggu Ada Tumbal Lagi
Bencana bukan sekadar fenomena alam. Ia bisa dicegah, atau setidaknya dampaknya diminimalisir — asal kebijakan benar-benar berpihak pada keselamatan manusia. Infrastruktur penanggulangan bencana, edukasi mitigasi di sekolah-sekolah, pemeliharaan hutan, pengawasan pembukaan lahan, hingga percepatan pembangunan hunian aman untuk penyintas, semua harus menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Tak boleh ada lagi anak yang kehilangan orang tua dalam sekejap.
Tak boleh ada lagi keluarga yang menunggu bantuan berhari-hari tanpa kepastian.
Tak boleh ada lagi negeri yang menangisi korban karena kita terlambat bergerak.
Anak-anak Aceh telah membayar mahal pelajaran ini dengan nyawa teman-temannya.
Kini giliran pemerintah membayar sisanya dengan tindakan nyata — cepat, tegas, dan manusiawi.
Bangsa ini tak butuh janji yang hanya berhenti di podium.
Bangsa ini butuh aksi di lapangan.
Karena di balik mata kecil yang pernah menatap maut itu, tersimpan masa depan Indonesia.
Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten.
