1 Desember 2025 — Pewarta: Ifa
Integritasnews.my.id – Sebuah kisah yang tercatat dalam riwayat Shahih Bukhari dan Muslim kembali mengundang perhatian dan renungan. Kisah ini menggambarkan bagaimana Rasulullah ﷺ menampilkan akhlak agung yang sulit ditemukan pada sosok pemimpin mana pun, terutama saat beliau diperlakukan dengan sangat kasar oleh seorang lelaki Badui.
Peristiwa tersebut terjadi pada masa Rasulullah ﷺ sedang berjalan bersama para sahabat pada suatu siang yang terik. Nabi mengenakan selendang tebal dari kain Najran—kain terkenal kuat namun terasa keras di kulit. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki Badui, sosok dari masyarakat pinggiran yang kala itu dikenal tidak memahami adab sebagaimana orang-orang kota.
Tanpa salam, tanpa sapaan, lelaki itu langsung menarik selendang Rasulullah ﷺ dari belakang dengan sangat kuat. Tarikan itu menjerat leher Nabi hingga terlihat bekas kemerahan pada kulit beliau. Para sahabat yang menyaksikan kejadian tersebut langsung terpancing emosi. Sebagian bahkan menggenggam pedang, tidak terima Rasulullah ﷺ diperlakukan kasar.
Namun Nabi tetap tenang.
Dalam riwayat disebutkan, lelaki Badui itu berkata dengan nada tinggi:
"Wahai Muhammad! Berikan kepadaku harta yang Allah titipkan padamu! Bukan hartamu dan bukan milik ayahmu!"
Ucapan itu kasar dan tidak sopan, apalagi ditujukan kepada Rasulullah ﷺ. Akan tetapi, respons Nabi kembali menunjukkan akhlak tertinggi: beliau menoleh, tersenyum, dan memanggil lelaki itu dengan kelembutan.
Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepada para sahabat:
"Berikan orang ini apa yang ia minta."
Seketika suasana menjadi tenang. Para sahabat yang semula ingin membela Nabi menurunkan tangan mereka. Setelah mendapatkan bagiannya dari harta zakat, lelaki Badui itu terdiam. Ekspresinya berubah; dari keras menjadi malu dan tersentuh.
Ia lalu berkata:
"Engkau tidak seperti raja-raja yang kami kenal. Engkau tidak membalas keburukan dengan kemarahan."
Dalam riwayat lain, ia mengucapkan:
"Semoga Allah merahmatimu, wahai Muhammad."
Sejak saat itu, lelaki Badui tersebut justru menjadi salah satu orang yang membela Nabi di tengah kaumnya.
Pelajaran Mendalam dari Kisah Ini
1. Kesabaran Nabi ﷺ tiada tanding. Leher beliau terlukai, tetapi beliau tetap tersenyum dan bersikap lembut.
2. Dakwah membutuhkan kelembutan. Sikap keras orang Badui luluh karena akhlak Rasulullah ﷺ.
3. Pemimpin sejati tidak tersulut amarah. Nabi membuktikan bahwa kekuatan terbesar bukan pada pedang, melainkan pengendalian diri.
4. Kekasaran seseorang bisa jadi karena ketidaktahuan, bukan kebencian. Nabi memilih memahami, bukan menghukum.
5. Akhlak lebih kuat dari kekuasaan. Dengan kelembutan, hati manusia berubah lebih dalam daripada dengan ketegasan.
Kisah ini menjadi cermin bagi masyarakat modern bahwa kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah. Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana kelembutan mampu menundukkan hati yang paling keras sekalipun.
—
Redaksi Integritasnews.my.id
Tepat, Lugas, Konsisten
