Moscow – Jakarta | Integritasnews.my.id —
Gelombang duka masih menyelimuti Sumatra. Banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan kawasan Aceh, Gayo hingga Sibolga kini menjelma menjadi salah satu musibah ekologis terburuk dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan laporan terbaru per 5 Desember 2025, tercatat sekitar 867 jiwa meninggal dunia, belum termasuk warga yang masih hilang dan terjebak di wilayah yang belum terjangkau tim SAR. Banyak desa terputus total, pasokan logistik sulit masuk, akses kesehatan lumpuh, sementara curah hujan ekstrem diprediksi masih akan berlangsung.
Namun hingga hari ini, Sabtu (6/12/2025), Pemerintah Republik Indonesia belum menetapkan status Bencana Nasional bagi tiga provinsi terdampak. Situasi ini kemudian memantik respon moral dan keprihatinan akademisi keamanan dan pertahanan Indonesia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Guru Besar Hubungan Internasional di St Petersburg State University, Russia.
Dari Moscow, Connie kembali menitipkan Surat Permohonan Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui sahabatnya Saiful Huda Ems (SHE), agar dapat disebarkan luas ke media sebagai bentuk seruan kemanusiaan untuk percepatan respon negara.
Surat tersebut menjadi lanjutan dari permohonan yang sebelumnya ia tujukan kepada OCHA (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs – PBB), kini secara langsung dialamatkan kepada Presiden, menyerukan langkah nyata yang dinilai mendesak dan tak bisa menunggu waktu lebih panjang.
Seruan dari Moscow: “Nyawa rakyat dan ekosistem tidak bisa menunggu.”
Dalam suratnya yang bernada kuat namun elegan, Connie menegaskan bahwa skala bencana telah melampaui kemampuan penanganan tingkat daerah. Ribuan warga terisolasi, banyak wilayah tak dapat dijangkau jalur darat maupun udara, sementara akses air bersih, pangan, obat-obatan, hingga layanan kesehatan dasar berada dalam kondisi kritis.
“Setiap jam keterlambatan berarti meningkatnya korban jiwa, penyebaran penyakit, kerusakan ekologis permanen, hilangnya masa depan sosial-ekonomi masyarakat,” tulisnya.
“Tidak ada pertimbangan politik, administratif, atau ekonomi yang lebih tinggi dibanding keselamatan manusia.”
Connie menilai bahwa kondisi Sumatra memenuhi prasyarat penetapan Bencana Nasional. Menurutnya, keputusan tersebut bukan hanya penting, tetapi krusial untuk membuka jalur gerak cepat:
Pengerahan alutsista TNI AU & AL lebih masif
Koordinasi lintas kementerian lebih terpusat
Mobilisasi anggaran darurat lebih luas
Aktivasi pusat komando terpadu
Efektivitas operasi evakuasi & distribusi logistik
Ia mengingatkan bahwa pembukaan akses bantuan internasional bukan bentuk intervensi, namun langkah moral kemanusiaan yang lazim dilakukan negara modern dalam bencana besar.
“Bantuan internasional tidak mengurangi kedaulatan. Operasi tetap di bawah koordinasi negara. Justru itu menunjukkan kepemimpinan Indonesia yang humanis dan visioner.”
Risiko reputasi negara jika lamban merespon
Connie turut memberi peringatan strategis yang jarang diucapkan secara terbuka oleh akademisi. Menurutnya, penundaan kebijakan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bukan hanya bagi korban, tetapi juga citra dan legitimasi negara dalam penanganan bencana.
Dalam suratnya, ia menyebut:
Korban yang dapat diselamatkan berisiko hilang
Kerusakan ekologis bisa menjadi permanen
Beban pemulihan akan jauh lebih berat
Sorotan internasional dapat meningkat tajam
Sebaliknya, langkah cepat Presiden akan menjadi bukti keberanian moral, ketegasan, dan sense of crisis pemimpin negara.
Lima tuntutan kemanusiaan Connie Rahakundini Bakrie kepada Presiden Prabowo
1. Menetapkan status Bencana Nasional untuk wilayah terdampak di Sumatra.
2. Memberi lampu hijau (green light) bagi akses bantuan internasional kemanusiaan.
3. Menugaskan TNI–Polri dengan mandat penuh dalam operasi penyelamatan darat, laut, dan udara.
4. Membentuk pusat komando terpadu (whole-of-government approach).
5. Mengutamakan nyawa rakyat sebagai prioritas tertinggi negara.
Dengan penuh hormat, Connie menutup suratnya:
“Surat ini bukan untuk mengkritik, tetapi untuk mengajak negara hadir secara maksimal di saat rakyat membutuhkan negara lebih dari sebelumnya. Kami percaya Bapak Presiden memiliki keberanian moral dan kepemimpinan kuat untuk mengambil keputusan cepat demi menyelamatkan nyawa dan masa depan ekologis Sumatra.”
Ditandatangani dari Moscow, 6 Desember 2025, ia meminta surat ini menjadi suara bersama untuk masyarakat terdampak yang saat ini berjuang bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Harapan publik menguat — bola kini di tangan Presiden
Seruan terbuka Connie, yang disampaikan melalui Saiful Huda EMS (SHE), menjadi refleksi kegelisahan banyak akademisi, pegiat kemanusiaan, dan warga Indonesia. Dunia melihat, publik menunggu, dan Sumatra sedang bertaruh melawan waktu.
Kini, masyarakat menantikan keputusan politik tertinggi dari Presiden Prabowo Subianto — apakah status Bencana Nasional akan diketuk, dan apakah pintu dunia akan dibuka demi menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Integritasnews.my.id akan terus memantau dan menyampaikan perkembangan terbaru tragedi kemanusiaan Sumatra.
Pewarta: ifa
