Saiful Huda Ems: Jokowi Menuai Tamparan Langit Akibat Inkonsistensi dan Penyalahgunaan Pengaruh Kekuasaan


JAKARTA | Integritasnews.my.id —

Pengamat politik sekaligus praktisi hukum Saiful Huda Ems (SHE) melontarkan kritik tajam terhadap mantan Presiden Joko Widodo. Ia menilai Jokowi tengah menuai apa yang disebutnya sebagai “tamparan langit” akibat serangkaian inkonsistensi sikap politik dan dugaan penyalahgunaan pengaruh pasca lengser dari jabatan presiden.

Menurut Saiful, janji Jokowi untuk kembali menjadi rakyat biasa setelah tak lagi menjabat presiden terbukti hanya menjadi retorika politik semata.

“Jokowi pernah berjanji akan pulang ke Solo dan hidup sebagai rakyat biasa. Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya. Ia semakin aktif dalam politik praktis, bahkan ikut mengorkestrasi pemenangan kandidat-kandidat kepala daerah,” ujar Saiful Huda Ems, Sabtu (31/1/2026).

Ia menyoroti keterlibatan Jokowi dalam mendukung sejumlah calon kepala daerah yang belakangan terseret kasus korupsi dan diproses oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Kasus Bupati Pati dan Wali Kota Madiun adalah bukti konkret bahwa Jokowi tidak sekadar menjadi penonton, tetapi bagian dari proses politik yang bermasalah secara etik,” tegasnya.

Tak hanya itu, Saiful juga mengkritik fenomena mobilisasi massa ke kediaman Jokowi di Solo yang dibungkus sebagai kerinduan rakyat.

“Itu bukan kerinduan spontan rakyat. Itu drama politik yang disetting. Ada mobilisasi, ada pengkondisian, dan ada pencitraan yang disengaja untuk membangun kesan seolah Jokowi masih dicintai secara massif,” katanya.

Saiful menilai situasi menjadi semakin serius ketika Jokowi secara terbuka terlibat dalam upaya membesarkan partai politik yang dipimpin oleh anak kandungnya sendiri. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk konflik kepentingan yang mencederai etika demokrasi.

“Ketika mantan presiden menggunakan pengaruhnya untuk membesarkan partai anaknya, ini bukan lagi soal preferensi politik, tapi soal penyalahgunaan warisan kekuasaan,” ungkap Saiful.

Ironi, lanjut Saiful, terlihat jelas ketika Jokowi begitu bersemangat menyatakan akan berkeliling ke seluruh Indonesia demi kepentingan politik, namun justru berulang kali mangkir dari panggilan pengadilan terkait tuduhan ijazah palsu.

“Pengadilan Negeri Surakarta memanggil, ia tidak datang. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memanggil, ia juga tidak hadir. Padahal Jokowi sendiri yang berjanji akan datang jika diminta pengadilan. Ini bentuk inkonsistensi yang telanjang,” katanya.

Saiful menilai ketidakhadiran Jokowi di pengadilan telah menimbulkan preseden buruk bagi penegakan hukum dan kepercayaan publik.

“Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku siap keliling ribuan desa, justru tidak mau melangkahkan kaki ke pengadilan untuk menyelesaikan persoalan hukum pribadinya?” sindirnya.

Lebih jauh, Saiful menyebut kritik terhadap Jokowi kini datang dari berbagai kalangan kredibel, mulai dari akademisi, praktisi hukum, dokter, hingga purnawirawan jenderal TNI dan Polri.

“Ini bukan suara orang sakit hati. Ini suara akal sehat. Jokowi hari ini dikelilingi kritik dari orang-orang yang punya integritas, sementara pendukung fanatiknya justru diisi oleh figur-figur yang merusak nalar publik,” ucapnya.

Menurut Saiful, sejarah selalu mencatat akhir perjalanan seorang pemimpin berdasarkan cara ia menggunakan dan melepaskan kekuasaan.

“Jokowi hari ini sedang menuai apa yang ia tanam sendiri: dusta, manipulasi, dan pengkhianatan terhadap demokrasi. Tamparan langit itu nyata dan tidak bisa dihindari,” pungkas Saiful.

Pewarta: Ifa

Integritasnews.my.id

Slogan: Tepat, Lugas, Konsisten