Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
23 Maret 2026
Integritasnews.my.id | Internasional – Sejarah konflik Palestina mencatat satu benang merah yang tak terputus: perlawanan rakyat terhadap dominasi militer yang jauh lebih kuat. Dari lemparan batu di jalanan Gaza hingga eskalasi konflik yang kini melibatkan kekuatan regional seperti Iran, dinamika ini terus berkembang dan menjadi perhatian dunia.
Saiful Huda Ems (SHE) dalam keterangannya menegaskan, akar perlawanan rakyat Palestina tidak lahir dari kekuatan militer, melainkan dari ketimpangan dan tekanan panjang yang dialami masyarakat sipil.
“Intifada itu bukan sekadar perlawanan, tetapi simbol keberanian rakyat sipil yang melawan ketidakadilan dengan segala keterbatasannya,” tegas SHE.
Gerakan Intifada 1987 menjadi titik awal perubahan besar. Berawal dari insiden di Kamp Jabalia, perlawanan rakyat meluas ke Tepi Barat dan Gaza. Dalam kondisi tanpa persenjataan modern, rakyat Palestina hanya mengandalkan batu dan ketapel menghadapi militer Israel.
Situasi tersebut, lanjut SHE, menjadi pemicu lahirnya gerakan yang lebih terorganisir.
“Dari situ kemudian lahir Hamas, yang awalnya merupakan transformasi dari gerakan sosial-keagamaan yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Ini bukan muncul tiba-tiba, tapi hasil dari proses panjang,” jelasnya.
Dalam perkembangannya, pola perlawanan berubah dari spontan menjadi sistematis. Hal ini memicu respons keras dari Israel yang memperkuat dukungan militernya bersama Amerika Serikat.
Namun konflik tidak hanya terjadi di medan perang. SHE menilai, perang opini juga menjadi senjata penting dalam membentuk persepsi global.
“Pelabelan terhadap Hamas dan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik global. Ini bagian dari perang narasi,” ujarnya.
Meski demikian, dukungan terhadap Palestina justru semakin meluas di berbagai negara, termasuk di kawasan Barat. Aksi solidaritas bermunculan di berbagai kota dunia, menunjukkan bahwa isu Palestina telah menjadi isu kemanusiaan global.
“Hari ini kita melihat fakta menarik, solidaritas justru datang dari masyarakat dunia lintas agama. Ini membuktikan bahwa nilai kemanusiaan tidak dibatasi identitas,” tambah SHE.
Di sisi lain, dinamika politik internal turut memengaruhi arah konflik. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Presiden AS Donald Trump kerap menjadi sorotan dalam berbagai kontroversi yang berkembang.
Ketegangan semakin meningkat dengan keterlibatan Iran sebagai kekuatan regional yang memiliki kapasitas militer signifikan.
“Iran bukan Hamas. Iran adalah negara dengan kekuatan militer dan strategi yang jauh lebih kompleks. Ini yang sering disalahpahami,” tegas SHE.
Menurutnya, perubahan konstelasi ini menunjukkan bahwa konflik Palestina telah berkembang menjadi konflik geopolitik yang lebih luas.
“Dulu ini konflik lokal, sekarang sudah menjadi pertarungan kepentingan global. Dan dunia tidak lagi bisa menutup mata,” pungkasnya.
pewarta ifa
