Integritasnews.my.id – Minggu, 22 Maret 2026
Di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, berbagai klaim kemenangan yang disampaikan oleh pihak Washington dan Tel Aviv mulai menuai sorotan tajam. Salah satunya datang dari pengamat politik, Saiful Huda Ems (SHE), yang mengurai sejumlah kejanggalan logis atas pernyataan yang beredar di ruang publik internasional.
Dalam analisisnya, Saiful Huda Ems menilai bahwa narasi yang menyebutkan Iran telah melemah justru bertolak belakang dengan fakta-fakta di lapangan yang terus berkembang.
Menurutnya, jika benar kekuatan Iran telah dilumpuhkan sebagaimana diklaim oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, maka seharusnya dampak strategis seperti penutupan Selat Hormuz tidak berlangsung lama. Namun hingga kini, jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut disebut masih berada dalam kendali Iran.
“Penutupan Selat Hormuz bukan persoalan kecil. Dampaknya menyentuh sekitar 20 persen distribusi minyak global. Jika Iran benar-benar lumpuh, seharusnya kendali atas wilayah itu sudah direbut kembali,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti kontradiksi antara klaim penghancuran fasilitas militer Iran dengan fakta serangan balasan yang terus terjadi. Iran, kata dia, justru masih mampu meluncurkan serangan rudal ke berbagai titik strategis, termasuk pangkalan militer di kawasan Teluk.
Bahkan, dalam perkembangan terbaru yang beredar di berbagai laporan internasional, Iran disebut telah meningkatkan kapasitas serangannya dengan rudal jarak menengah, memperluas jangkauan hingga ribuan kilometer.
Tak hanya dari sisi militer, Saiful juga menyinggung aspek geopolitik yang dinilai menunjukkan posisi Amerika Serikat dan Israel tidak sepenuhnya kuat. Ia menilai, permintaan dukungan yang terus dilakukan kepada negara-negara sekutu menjadi indikasi adanya tekanan yang signifikan.
“Jika posisi mereka benar-benar unggul, mengapa harus terus meminta dukungan tambahan, bahkan dengan nada tekanan?” ujarnya.
Ia juga mencermati sikap sejumlah negara yang memilih berhati-hati dalam konflik ini. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan perhitungan strategis jangka panjang, bukan sekadar posisi netral semata.
Dalam analisis lain, Saiful menyoroti dinamika sosial di Israel yang disebutnya menunjukkan tanda-tanda ketegangan internal. Ia menilai, berkurangnya aktivitas publik di sejumlah kota serta meningkatnya mobilitas warga ke luar negeri menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.
Sementara itu, pernyataan-pernyataan kontroversial dari Presiden Donald Trump juga tak luput dari perhatian. Saiful menilai, pernyataan yang terkesan inkonsisten justru memperlihatkan adanya tekanan psikologis di tengah konflik yang belum menemukan titik terang.
“Pernyataan publik adalah cerminan situasi. Ketika narasi berubah-ubah, publik berhak membaca adanya dinamika di baliknya,” tegasnya.
Mengakhiri analisanya, Saiful Huda Ems menegaskan bahwa konflik ini bukan sekadar soal kekuatan militer, melainkan juga pertarungan narasi, persepsi, dan strategi global yang kompleks.
Ia mengingatkan bahwa publik perlu lebih kritis dalam menyikapi setiap informasi yang beredar, terutama di tengah derasnya arus propaganda dari berbagai pihak.
Pewarta ifa
(Redaksi Integritasnews.my.id)
Tepat, Lugas, Konsisten
