Pergerakan Senyap Kubu Jokowi, Kritik Keras SHE: Ada Upaya Delegitimasi Kepemimpinan Prabowo


Jawa Barat – Integritasnews.my.id

Dinamika politik nasional kembali memanas. Sorotan tajam datang dari pengamat sosial-politik, Saiful Huda Ems (SHE), yang menilai adanya pergerakan senyap dari kelompok loyalis Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang diduga mengarah pada upaya sistematis melemahkan posisi Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pernyataan tertulisnya pada Senin (24/3/2026), SHE mengungkap bahwa aktivitas kritik di ruang publik, khususnya media sosial, tidak lagi sekadar menjadi ekspresi kontrol masyarakat, melainkan telah bergeser menjadi arena pertarungan kepentingan politik yang lebih dalam.

“Jika dicermati, serangan terhadap Presiden Prabowo Subianto dari kelompok tertentu berlangsung masif dan terstruktur. Ini bukan sekadar kritik biasa, tetapi cenderung mengarah pada upaya menjatuhkan,” tegas SHE.

Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara kritik yang disampaikan oleh masyarakat umum dengan serangan yang dilancarkan oleh kelompok yang ia sebut sebagai “kubu pro Jokowi”. Ia menilai, kritik dari masyarakat masih dilandasi harapan perbaikan, sementara serangan dari kelompok tertentu justru mengarah pada delegitimasi kepemimpinan.

Lebih lanjut, SHE menyinggung potensi skenario politik yang dinilai berbahaya, yakni mendorong posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai figur pengganti di tengah melemahnya kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo.

“Ini yang harus diwaspadai. Ada kecenderungan mendorong pergantian kekuasaan secara tidak langsung, dengan memanfaatkan situasi yang ada,” ujarnya.

Di sisi lain, SHE juga mengkritik keras kondisi internal pemerintahan. Ia menyoroti dugaan lemahnya koordinasi serta tidak sinkronnya laporan para pembantu presiden dengan realitas di lapangan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai sarat persoalan.

Dalam pandangannya, terdapat ketimpangan signifikan antara anggaran yang ditetapkan pemerintah pusat dengan implementasi di lapangan. Hal ini, menurutnya, membuka ruang bagi praktik penyimpangan yang merugikan negara.

“Presiden bisa saja tidak mendapatkan informasi yang utuh. Ini yang berbahaya. Jika laporan yang diterima tidak sesuai fakta, maka kebijakan yang diambil juga berpotensi keliru,” ungkapnya.

Tak hanya itu, SHE juga menyoroti potensi krisis energi dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. Ia menilai, pemerintah belum menunjukkan kesiapan yang memadai dalam mengantisipasi dampak lanjutan dari kelangkaan tersebut.

“Kondisi ini bisa berdampak domino terhadap kebutuhan pokok dan sektor industri. Pemerintah harus segera bertindak cepat dan tepat,” tegasnya.

Dalam kritiknya, SHE turut menyinggung kualitas sejumlah menteri di kabinet yang dinilai belum mampu menjawab tantangan bangsa. Ia mendorong Presiden Prabowo untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan berani mengambil langkah tegas demi menjaga stabilitas pemerintahan.

“Masih banyak putra bangsa yang memiliki kapasitas dan integritas tinggi. Presiden harus berani melakukan penyegaran kabinet demi kepentingan rakyat,” ujarnya.

SHE juga secara spesifik mengusulkan sejumlah nama yang dinilainya memiliki kapasitas kuat untuk memperkuat kabinet. Untuk posisi Menteri Luar Negeri, ia menilai sosok Connie Rahakundini Bakrie memiliki kemampuan diplomasi yang mumpuni dan pengalaman strategis dalam hubungan internasional. Sementara untuk sektor energi, SHE menyebut Haidar Alwi sebagai figur yang memahami potensi sumber daya alam nasional sekaligus memiliki rekam jejak kepedulian sosial melalui berbagai program kemanusiaan.

Menurutnya, figur-figur tersebut dapat menjadi alternatif dalam melakukan pembenahan kabinet, khususnya pada sektor-sektor vital yang saat ini dinilai belum optimal dalam menjawab tantangan nasional.

Menutup pernyataannya, SHE mengingatkan bahwa kepercayaan publik merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan pemerintahan. Ia menilai, langkah korektif yang cepat dan tepat akan mampu meredam potensi gejolak sosial di tengah masyarakat.

“Jika Presiden mampu merespons kritik dengan bijak dan melakukan perbaikan nyata, maka kepercayaan rakyat akan kembali pulih. Stabilitas nasional pun dapat terjaga,” pungkasnya.

(Ifa – Integritasnews.my.id | Tepat, Lugas, Konsisten)