POV: Serangan terhadap Pengamat Dimulai? Antara Kebisingan dan Legitimasi Akademik


Oleh: Ifa – Integritasnews.my.id

St. Petersburg, Rusia, 1 April 2026 — Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, ruang publik tak hanya dipenuhi oleh pertarungan kepentingan antarnegara, tetapi juga oleh perang narasi yang kian tajam. Kali ini, sorotan mengarah pada fenomena yang lebih subtil namun berdampak luas: serangan terhadap figur pengamat yang memiliki basis akademik kuat.

Pernyataan yang disampaikan oleh Connie Rahakundini Bakrie dari St. Petersburg menjadi sinyal bahwa pertarungan wacana telah bergeser dari adu argumen menjadi adu legitimasi. Dalam sudut pandangnya, ia menegaskan bahwa reputasi kini dapat diserang bahkan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki rekam jejak akademik yang jelas untuk dipertanggungjawabkan.

Fenomena ini bukan sekadar dinamika biasa. Ia mencerminkan perubahan pola dalam membentuk opini publik—di mana suara keras sering kali dianggap lebih dominan daripada substansi. Padahal, dalam tradisi akademik yang mapan, legitimasi tidak lahir dari riuhnya perdebatan, melainkan dari fondasi yang terukur: institusi, karya ilmiah, serta pengakuan yang kredibel.

Dalam lanskap seperti ini, sikap memilih untuk tidak terjebak dalam polemik menjadi langkah yang tidak populer, namun sarat makna. “Saya memilih tidak turun ke level itu,” tegas Connie. Sebuah pernyataan yang bukan sekadar penolakan, melainkan penegasan posisi—bahwa integritas tidak perlu berteriak untuk diakui.

Menanggapi dinamika tersebut, analis sekaligus jurnalis senior, Advocate Saiful Huda EMS, memberikan pandangan yang tak kalah tajam. Ia menilai bahwa apa yang terjadi bukan sekadar kritik biasa, melainkan gejala degradasi etika dalam ruang diskursus publik.

“Ketika orang tanpa basis keilmuan merasa setara bahkan lebih berhak menghakimi mereka yang memiliki rekam jejak akademik jelas, di situlah kita sedang menyaksikan kemunduran intelektual,” tegas Saiful Huda EMS.

Ia juga menambahkan bahwa serangan terhadap pengamat bukan hanya upaya menjatuhkan individu, melainkan bagian dari pola yang lebih luas untuk merelatifkan kebenaran. “Ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana kebenaran itu sengaja dibuat kabur agar publik kehilangan arah,” lanjutnya.

Menurutnya, publik harus semakin cerdas dalam memilah mana kritik yang konstruktif dan mana serangan yang didorong oleh kepentingan tertentu. “Kita tidak boleh membiarkan ruang publik dikuasai oleh kebisingan tanpa substansi. Karena jika itu terjadi, maka yang kalah bukan individu, tapi akal sehat bersama,” ujarnya lugas.

Apa yang disampaikan Saiful sejalan dengan kegelisahan yang diutarakan Connie. Keduanya menegaskan bahwa kredibilitas bukanlah sesuatu yang bisa diruntuhkan oleh opini tanpa dasar. Ia dibangun melalui proses panjang yang tidak bisa dipalsukan oleh sekadar narasi.

Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan adanya upaya sistematis, atau setidaknya masif, dalam menggerus otoritas keilmuan melalui serangan personal dan delegitimasi. Pengamat yang seharusnya menjadi penyeimbang dalam membaca situasi justru menjadi sasaran. Pertanyaannya: apakah ini bagian dari strategi yang lebih besar untuk mengaburkan kebenaran?

Di era digital, siapa pun dapat berbicara. Namun tidak semua memiliki bobot yang sama. Ketika batas antara opini dan keahlian menjadi kabur, publik berisiko terseret dalam arus informasi yang tidak lagi jernih. Di sinilah pentingnya kembali pada prinsip dasar: bahwa kredibilitas dibangun, bukan diklaim.

Pada akhirnya, waktu akan membuktikan segalanya. Narasi yang dibangun di atas sensasi mungkin menggema sesaat, tetapi akan pudar seiring fakta yang tak terbantahkan. Sebaliknya, gagasan yang berakar pada realitas akan tetap berdiri, bahkan ketika dihantam oleh berbagai serangan.

Karena seperti ditegaskan oleh Connie Rahakundini Bakrie—yang bertahan bukanlah narasi yang paling keras, melainkan yang paling nyata.

Dan sebagaimana diingatkan oleh Saiful Huda EMS, ketika akal sehat tetap dijaga, maka kebenaran tidak akan pernah benar-benar kalah.