KAPOLRESTABES SURABAYA BONGKAR JARINGAN JOKI UTBK SNBT 2017–2026, UNGKAP PENYEKAPAN LANSIA HINGGA CURANMOR LINTAS DAERAH


Surabaya, Integritasnews.my.id – Satreskrim Polrestabes Surabaya menggelar conference pers pengungkapan sejumlah kasus besar yang menjadi perhatian publik, Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB di Ruang M. Yasin Polrestabes Surabaya.


Conference pers dipimpin langsung oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., bersama Kasi Propam Kompol Kamid, Kasat Reskrim AKBP Dr. Edy Herwiyanto, S.H., M.H., M.Kn., serta Kasi Humas AKP Hadi.

Dalam pemaparannya, Kapolrestabes Surabaya mengungkap sejumlah kasus menonjol mulai dari jaringan joki UTBK SNBT lintas daerah sejak tahun 2017 hingga 2026, kasus penyekapan seorang lanjut usia selama hampir satu tahun, hingga pengungkapan pelaku curanmor lintas provinsi yang dikenal sangat meresahkan masyarakat.


BONGKAR JARINGAN JOKI UTBK SNBT, LIBATKAN DOKTER DAN PEMBUAT KTP PALSU

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa pengungkapan jaringan joki UTBK SNBT menjadi salah satu kasus besar yang berhasil diungkap Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Dari hasil pendalaman penyidik, jaringan tersebut diketahui telah beroperasi sejak tahun 2017 hingga 2026 dan diduga menerima sekitar 150 order praktik perjokian masuk perguruan tinggi negeri.

“Dari hasil pemeriksaan, kami berhasil mengamankan sejumlah pelaku yang memiliki peran berbeda-beda dalam jaringan ini,” ujar Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.

Kapolrestabes merinci, pihaknya telah mengamankan lima orang pelaksana penerima order, di mana tiga di antaranya diketahui berprofesi sebagai dokter. Selain itu terdapat dua orang bagian pencari order, dua orang pelaksana lapangan, serta lima orang yang berperan membuat dokumen palsu berupa KTP.

Penyidik juga telah mengantongi identitas 14 pemberi order yang saat ini masih terus didalami keterlibatannya.

“Sebagian peserta yang menggunakan jasa joki bahkan diketahui telah lolos dan menjadi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi,” tegasnya.

Kasus ini diketahui tidak hanya terjadi di wilayah Jawa Timur, melainkan juga menjalar ke Jawa Barat, Jawa Tengah hingga luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan.

Dalam praktiknya, biaya jasa joki dipatok fantastis, mulai Rp500 juta hingga Rp700 juta tergantung kampus dan fakultas tujuan. Sementara eksekutor yang menjalankan ujian disebut menerima bayaran sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta.

Menurut Kapolrestabes, fakultas kedokteran menjadi jurusan yang paling banyak diminati pengguna jasa joki karena persaingan masuk yang sangat ketat.

Meski demikian, hasil pemeriksaan sementara belum menemukan adanya keterlibatan pihak kampus maupun perguruan tinggi dalam praktik tersebut.

“Dari hasil pemeriksaan sampai dengan saat ini belum ditemukan keterlibatan pihak kampus. Modus para tersangka adalah mencari korban atau calon mahasiswa melalui jaringan mereka sendiri,” terang Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.

Kapolrestabes menegaskan bahwa penyidik masih terus mengembangkan kasus tersebut guna membongkar seluruh jaringan, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain yang selama ini beroperasi secara sistematis dan terstruktur.

SATRESKRIM SELAMATKAN KAKEK 80 TAHUN YANG DISEKAP HAMPIR SETAHUN

Selain membongkar jaringan joki UTBK, Polrestabes Surabaya juga mengungkap kasus penyekapan terhadap seorang lanjut usia berusia 80 tahun yang berlangsung selama kurang lebih satu tahun.

Ironisnya, pelaku utama dalam kasus tersebut merupakan perempuan yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga korban karena menjalin hubungan asmara dengan anak korban.

Kapolrestabes Surabaya menjelaskan, korban awalnya diajak bertemu oleh tersangka yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Namun setibanya di lokasi, korban langsung disekap oleh dua pria yang merupakan bagian dari komplotan pelaku.

Korban kemudian dipindah-pindahkan dan dikurung di sejumlah lokasi di Surabaya tanpa alat komunikasi.

“Korban dikurung di dalam kamar tanpa handphone dan tanpa akses komunikasi. Setiap hari hanya diberi makan dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya,” jelas Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.

Selama korban menghilang, tersangka terus meyakinkan keluarga bahwa korban sedang bepergian menikmati masa tua bersama ayah tersangka.

Karena tersangka selama ini dipercaya keluarga, alasan tersebut sempat diyakini hingga berbulan-bulan lamanya.

Kecurigaan mulai muncul ketika korban tak kunjung pulang dan tersangka mendadak sulit dihubungi hingga akhirnya menghilang kontak sepenuhnya.

Berbekal laporan keluarga, Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan penyelidikan intensif hingga akhirnya berhasil menemukan korban dalam kondisi masih hidup.

Yang mengejutkan, korban sama sekali tidak mengetahui bahwa perempuan yang selama ini dianggap dekat dengan keluarganya justru menjadi otak utama penyekapan.

“Korban bahkan meminta polisi menyelamatkan tersangka karena mengira tersangka juga korban penyekapan,” ungkap Kapolrestabes.

Polisi kini masih mendalami motif utama kasus tersebut termasuk dugaan pemerasan dan penguasaan harta milik korban.

“Kami pastikan seluruh pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.


PELAKU PEMBUNUHAN BERANTAI TERNYATA DPO CURANMOR DAN POSITIF NARKOBA

Dalam konferensi pers yang sama, Kapolrestabes Surabaya juga mengungkap kasus pembunuhan sadis yang dilatarbelakangi emosi pelaku setelah mendapat laporan bahwa adik perempuannya diduga dilecehkan korban.

Pelaku disebut sempat mencari korban sejak pukul 04.00 WIB hingga akhirnya bertemu sekitar pukul 06.00 WIB sambil membawa pisau.

Saat bertemu di sebuah gang yang biasa menjadi lokasi korban berkumpul, pelaku langsung melakukan pembacokan brutal ke arah leher dan kepala korban sebelum menusuk dada korban hingga menembus jantung.

Korban mengalami luka parah dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka diketahui merupakan residivis kasus narkoba serta masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus curanmor.

“Pada malam sebelum kejadian tersangka juga diketahui mengonsumsi narkoba,” jelas Kapolrestabes.

Kasus tersebut kini juga dikembangkan bersama Satresnarkoba guna mengungkap asal barang haram yang digunakan tersangka.

POLRESTABES SURABAYA BURU JARINGAN CURANMOR LINTAS KOTA

Polrestabes Surabaya turut mengamankan tiga pelaku curanmor lintas daerah yang diketahui memiliki rekam jejak kejahatan cukup panjang di sejumlah wilayah.

Kapolrestabes menyebut salah satu pelaku diketahui pernah beraksi di Bangkalan sebanyak sembilan kali, di Yogyakarta enam kali, Solo empat kali, Kalimantan enam kali, dan dua kali di Surabaya.

“Rekam jejaknya luar biasa dan kami terus berkoordinasi dengan beberapa Polres untuk mengungkap jaringan serta mengembalikan kendaraan hasil curian kepada pemiliknya,” ujar Kombes Pol. Luthfie Sulistiawan.

Meski angka curanmor di Surabaya disebut mengalami penurunan signifikan, pihak kepolisian memastikan akan terus melakukan tindakan tegas terhadap para pelaku maupun penadah.

Kapolrestabes juga meminta masyarakat tetap tenang dan percaya terhadap kinerja kepolisian.

“Yakinlah, kami akan memaksimalkan pengungkapan terhadap para pelaku dan jaringan penadahnya,” tandasnya.

Konferensi pers tersebut menunjukkan komitmen kuat Polrestabes Surabaya di bawah kepemimpinan Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., dalam memberantas kejahatan terorganisir, menjaga integritas penegakan hukum, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.

(Pewarta: Ifa | Integritasnews.my.id)