Sidoarjo, IntegritasNews.my.id – Dalam upaya nyata mencegah krisis gizi kronis yang masih mengancam masa depan anak-anak Indonesia, Desa Suko, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, menggelar Rembuk Stunting pada Selasa (22/7/2025). Bertempat di Pendopo Balai Desa, kegiatan ini tidak sekadar seremoni—tetapi menjadi ajang konsolidasi seluruh elemen masyarakat dan pemerintahan desa dalam menyusun strategi komprehensif pemberantasan stunting dari hulu ke hilir.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB ini dibuka dengan penghormatan kepada Tanah Air melalui lagu kebangsaan Indonesia Raya, mencerminkan semangat gotong-royong yang menjadi dasar gerakan ini. Hadir dalam forum tersebut sejumlah pihak kunci yang memiliki peran strategis dalam lintas sektor penanganan stunting, mulai dari unsur TNI dan Polri, tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga perwakilan masyarakat sipil.
Beberapa tokoh yang tampak aktif terlibat di antaranya Serka Gunawan (Babinsa Ramil 0816/15), Briptu Agung Setyo (Babinkamtibmas), Arif Hidayatullah, ST (tenaga profesional pendamping kabupaten), Bidan Desa Fitri, serta jajaran pemerintahan desa yang diwakili oleh Sekretaris Desa Bu Ririn. Hadir pula Ketua BPD Agung Budianto, Ketua PKK Ibu Tisna, Pendamping Desa Ibu Teen, Pendamping Lokal Desa Ibu Arum, serta para kader Posyandu dan tokoh perempuan desa yang menjadi ujung tombak perubahan di tingkat keluarga.
Masalah Serius, Solusi Konkret
Stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak yang tidak sesuai usia, melainkan refleksi dari kegagalan sistemik dalam pemenuhan gizi, sanitasi, dan edukasi sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Dalam diskusi interaktif, para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak menyusun langkah strategis sesuai kondisi riil yang dihadapi masyarakat Desa Suko.
“Ini bukan tugas satu-dua orang. Ini adalah kerja kolektif. Pencegahan stunting harus dimulai dari kesadaran orang tua, didukung oleh sistem layanan yang kuat,” tegas Arif Hidayatullah dalam paparannya yang mengangkat data stunting lokal sebagai dasar analisis.
Sementara itu, Bidan Fitri menekankan pentingnya pemantauan ibu hamil dan balita secara rutin melalui posyandu. “Masalah gizi bisa dicegah sejak awal jika masyarakat mau aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang sudah ada,” ujarnya.
Peran Perempuan dan Komunitas: Garda Terdepan
Salah satu hal yang menonjol dari forum ini adalah keterlibatan aktif para perempuan desa—dari PKK hingga kader posyandu. Mereka menjadi penggerak utama dalam edukasi keluarga dan pola asuh anak yang sehat. Ketua PKK, Ibu Tisna, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut dalam bentuk aksi nyata di lapangan.
“Kami akan terus turun ke rumah-rumah, memberikan penyuluhan tentang gizi, kebersihan lingkungan, dan pentingnya ASI eksklusif. Ini adalah perjuangan kita bersama,” ungkapnya dengan semangat.
Dari Forum ke Implementasi
Puncak acara ditandai dengan penyusunan rencana aksi lokal berbasis hasil diskusi kelompok. Setiap kelompok merumuskan pendekatan kolaboratif—menggabungkan intervensi kesehatan, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan edukasi berbasis komunitas. Rencana ini akan dijadikan acuan dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting di Desa Suko.
Dengan digelarnya Rembuk Stunting ini, Desa Suko menunjukkan komitmen kuat untuk tidak menjadi penonton dalam menghadapi persoalan gizi anak. Mereka memilih menjadi pelaku perubahan.
“Rembuk ini bukan akhir, tapi awal. Kami ingin generasi masa depan Desa Suko tumbuh sehat, cerdas, dan bebas dari stunting,” tutup Bu Ririn mewakili Pj Kepala Desa.
Integritas Masyarakat, Harapan Masa Depan
Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan ekonomi, Desa Suko telah memberi teladan: bahwa solusi dimulai dari akar rumput, dari sinergi dan kesadaran kolektif. Dalam era di mana angka stunting nasional masih jadi pekerjaan rumah, langkah Desa Suko bisa jadi model partisipatif pembangunan kesehatan desa yang patut diapresiasi dan direplikasi.
(Ifa)
