www integritasnews my id
Jakarta, 4 Juli 2025 , IntegritasNews.my.id — Di tengah gempuran era digital dan derasnya arus informasi, satu pesan sederhana namun bermakna mendalam kembali menggugah nurani: "Jangan tunggu sempurna untuk menebar kebaikan."
Pesan ini bukan sekadar seruan moral, melainkan ajakan konkret untuk setiap insan agar tidak menunda-nunda berbuat baik. Di tengah keterbatasan ilmu, sempitnya waktu, atau bahkan pas-pasan secara materi, semangat untuk memberi dan bermanfaat tetap bisa diupayakan.
"Telaplah memberi manfaat. Jangan menunggu menjadi baik untuk menebar kebaikan. Tetaplah memberi, meski sedikit ilmu dan tenaga yang kita arahkan," demikian kutipan pesan yang viral di berbagai kanal dakwah pekan ini. Kalimat itu mengetuk batin masyarakat urban, terutama warga Jakarta yang hidup dalam ritme serba cepat dan kompetitif.
Dalam suasana sosial yang kian individualistis, nilai-nilai seperti sedekah, berbagi ilmu, bahkan sekadar menyapa dengan ramah, menjadi "komoditas langka" yang justru sangat dibutuhkan. Seringkali, niat untuk berbagi terhalang oleh dalih: "Tunggu nanti, kalau saya sudah mapan."
Namun hidup tidak menunggu. Waktu tak bisa ditahan. Seorang ulama pernah berkata, "Orang yang menunggu sempurna untuk memberi, ibarat menanti matahari terbit di malam hari." Mustahil.
Justru, dalam keterbatasanlah keikhlasan diuji. Memberi dari yang sedikit, berbagi dari yang sederhana—itulah nilai spiritual sejati yang seringkali dilupakan.
Tidak heran jika ajakan mulia ini kembali digaungkan, seiring meningkatnya keprihatinan sosial dan ekonomi pasca-pandemi. Tak sedikit warga yang memilih berperan diam, hanya karena merasa “belum cukup baik”. Padahal setiap langkah kecil, setiap kebaikan ringan, bisa menjadi penyambung harapan bagi orang lain.
“Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah, karena ajal tidak pernah menunggu kita siap,” tulis salah satu aktivis dakwah dalam unggahan yang kini ramai dibagikan.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam memberi—bahkan ketika beliau tak memiliki apa-apa. Beliau mengajarkan bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah, dan sedekah tidak mengurangi harta, justru menyucikannya.
Momentum ini menjadi pengingat kuat, bahwa di tengah segala kesibukan dan persaingan, keikhlasan untuk bermanfaat bagi sesama adalah investasi paling abadi. Kebaikan tidak menunggu kesiapan—ia hanya menanti niat dan keberanian untuk mulai.
📿 اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
Mari tebarkan manfaat, mulai dari sekarang.
Dari hati, untuk negeri. 🇮🇩
Pewarta:
R. PRIHATANTO, S.Si,
Integritasnews my id
📍 Editor: ifa
