Korupsi, Mesin Penghancur Harapan: Saat Para Pengkhianat Bangsa Menjual Masa Depan Anak Negeri


 Www integritasnews my id

Besuki, 27 Juli 2025 – Dalam gelapnya malam yang sunyi di pelosok Besuki, suara hati seorang warga menggema lantang, menerobos batas-batas ruang dan waktu, menyuarakan keresahan yang telah lama dipendam: korupsi bukan sekadar pencurian uang rakyat, melainkan pembunuhan massal terhadap harapan, mimpi, dan masa depan anak bangsa.


Seorang tokoh lokal yang menamai dirinya Sang D.P.O. Siti Jenar, menyampaikan refleksi tajamnya lewat sebuah pesan emosional, mengutip kebijaksanaan filsuf besar dunia, Aristoteles, yang pernah menyatakan bahwa mencuri dari rakyat sama artinya dengan mencuri harapan mereka. Di tengah malam yang sunyi, suara itu justru menggema lebih keras dari ribuan toa kampanye politik yang kini banyak kehilangan makna.


Uang Rakyat, Bukan Sekadar Angka Anggaran

Dalam narasi tajamnya, Siti Jenar menyentil realitas menyakitkan: uang rakyat bukan sekadar angka dalam APBN atau APBD. Ia adalah nafas bagi pendidikan anak-anak di pelosok, harapan bagi mereka yang menunggu operasi di lorong-lorong rumah sakit, dan tiang penyangga infrastruktur yang mendambakan kehidupan lebih baik di desa-desa yang lama terabaikan.


“Korupsi adalah mesin penghancur harapan dan masa depan anak bangsa,” tegasnya, membuka luka kolektif yang mungkin sudah terlalu sering dibiarkan menganga.


Korupsi: Tindakan Melawan Hukum dan Pengkhianatan Kepercayaan

Korupsi tidak hanya menggerogoti fondasi hukum negara, tetapi juga meluluhlantakkan nilai-nilai dasar kepercayaan dalam masyarakat. Kepercayaan adalah modal utama pembangunan bukan hanya kepercayaan kepada pemerintah, tetapi juga antarsesama warga negara.

Ketika kepercayaan itu dirusak oleh tangan-tangan kotor, bangsa ini tidak hanya kehilangan kekayaan materi, tetapi juga hancur secara moral dan kehilangan solidaritas sosial. Korupsi, dalam sudut pandang Siti Jenar, bukan sekadar tindakan kriminal; ia adalah dosa sosial.

“Mereka yang mencuri dari rakyat ibarat seseorang yang menebang akar pohon besar demi keuntungan kecil,” tulisnya dengan analogi menohok. Pohon itu, lanjutnya, sejatinya memberi naungan dan oksigen bagi banyak orang. Tapi karena kerakusan, semuanya dihancurkan. “Akibatnya, semua kehilangan—tidak hanya hari ini, tetapi juga masa depan.”


Ketimpangan dan Putus Asa: Warisan Korupsi yang Nyata

Perilaku korup menciptakan jurang ketimpangan yang makin dalam. Ia memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin, memperkuat ketidakadilan sistemik, dan memperkeruh ruang hidup masyarakat yang seharusnya dilandasi rasa keadilan dan persatuan.

Dalam masyarakat yang dicemari korupsi, rasa percaya perlahan terkikis. Yang tersisa hanyalah apatisme, kecurigaan, dan keputusasaan. Harapan berubah menjadi sinisme, dan anak-anak negeri tumbuh dengan warisan luka: negara yang tidak pernah sepenuhnya hadir untuk mereka.


Satu Kata untuk Koruptor: Lawan!

Dalam penutupnya, Siti Jenar tidak menahan amarahnya. Ia memilih untuk menyuarakan kebenaran yang tajam, keras, dan tanpa kompromi.

“Sekali lagi ingat kawan: Korupsi adalah mesin Penghancur Harapan dan Masa Depan anak bangsa. Maka dari itu satu kata untuk para koruptor di mana pun mereka berada: LAWAN, KORUPTOR BANGSAT!”

Itu bukan sekadar makian. Itu adalah jeritan nurani rakyat yang muak dibohongi, dijual, dan dikhianati. Jeritan yang lahir bukan dari kebencian pribadi, melainkan dari cinta mendalam kepada bangsa ini dan rasa tanggung jawab untuk tidak membiarkan generasi mendatang tumbuh dalam reruntuhan kebusukan yang ditinggalkan hari ini.


Refleksi untuk Kita Semua

Apakah kita akan terus diam, membiarkan mesin penghancur itu berputar tanpa henti? Ataukah kita memilih untuk melawan, bukan hanya dengan amarah, tapi juga dengan integritas, keteladanan, dan keberanian untuk berkata tidak terhadap segala bentuk korupsi?

Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, masa depan anak-anak kita tidak boleh lagi dijadikan tumbal kerakusan. Mereka berhak atas pendidikan yang layak, sistem kesehatan yang adil, dan pemimpin yang benar-benar memikul amanah.

Pesan dari Siti Jenar malam itu bukan sekadar “celotehan” seperti ia sebut di akhir kata. Ia adalah panggilan jiwa. Dan bagi siapa pun yang masih memiliki hati nurani, ini adalah alarm yang tak boleh diabaikan.


IntegritasNews.my.id | Suara Kebenaran, Tegak Tanpa Kompromi

(Ifa)