Jakarta – Integritasnews.my.id, 23 Agustus 2025
Bumi demokrasi Indonesia kembali bergetar. Ratusan hingga ribuan massa dipastikan akan turun ke jalan pada Senin, 25 Agustus 2025, menuju Gedung DPR-MPR RI, Senayan, Jakarta. Aksi besar-besaran ini digelar sebagai bentuk perlawanan rakyat terhadap menguatnya praktik politik dinasti dan oligarki yang dinilai mengancam masa depan demokrasi di negeri ini.
Seruan aksi tersebut datang dari berbagai elemen masyarakat sipil, mahasiswa, aktivis, hingga tokoh rakyat yang menolak keras upaya penguasaan negara oleh segelintir elit politik dan kroninya. Salah satu pesan moral yang lantang datang dari Mulyono, tokoh yang dikenal kritis terhadap sistem oligarki:
“Salam waras, salam pegang teguh terhadap demokrasi di bumi NKRI. Salam tolak keras strategi politik dinasti dan oligarki. Mulyono hengkang dari NKRI ini,” tegasnya dalam pesan terbuka yang beredar melalui video.
Pesan Menyentuh untuk Aparat: Jangan Berhadapan dengan Rakyat
Dalam seruan aksi itu juga disampaikan pesan khusus kepada aparat keamanan yang nantinya akan berhadapan dengan massa. Pesan tersebut mengingatkan polisi maupun prajurit TNI agar tetap berpihak pada rakyat.
“Sebelum kalian melemparkan gas air mata atau menodongkan senapan kepada saudara kalian yang sedang mencari keadilan di negeri ini, ingatlah bahwa kalian sedang berhadapan dengan rakyat yang memberi kehidupan bagi bangsa ini. Bukan kepada mereka yang duduk nyaman di balik Gedung DPR,” bunyi pesan tersebut.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa aparat diharapkan tidak menjadi alat kekuasaan yang melawan rakyat, melainkan tetap menjaga tugas utama: melindungi masyarakat.
Aksi Damai, Suara Tegas Rakyat
Koordinator lapangan aksi menegaskan bahwa tujuan utama demo 25 Agustus 2025 adalah menolak segala bentuk pewarisan jabatan politik (politik dinasti) serta dominasi oligarki dalam pengambilan keputusan negara.
“Indonesia bukan milik satu keluarga. Indonesia bukan milik oligarki. Indonesia adalah milik rakyat dari Sabang sampai Merauke. Kami turun ke jalan bukan untuk kekerasan, tapi untuk menyelamatkan republik ini dari kehancuran,” ujar salah satu orator aksi.
Demokrasi dalam Ancaman
Gelombang perlawanan rakyat ini lahir di tengah kekecewaan mendalam terhadap praktik politik belakangan ini. Banyak regulasi dinilai hanya melanggengkan kekuasaan kelompok tertentu, sementara kepentingan rakyat kecil terabaikan.
Fenomena politik dinasti yang semakin vulgar—dari tingkat daerah hingga pusat—menjadi bukti nyata bahwa demokrasi Indonesia sedang menghadapi tantangan serius.
Sejumlah pengamat menilai aksi 25 Agustus 2025 bisa menjadi momentum sejarah, di mana rakyat kembali bangkit untuk mengoreksi arah bangsa. Jika elit politik tetap mengabaikan suara rakyat, gelombang perlawanan bisa semakin besar dan berujung pada krisis kepercayaan terhadap sistem politik.
Doa dan Harapan
Di balik semangat perlawanan, doa juga dipanjatkan. Para peserta aksi berharap semua massa yang turun ke jalan dapat kembali pulang dengan selamat. Mereka juga berharap aparat dan rakyat bisa berdiri dalam barisan yang sama—bukan saling berhadapan, melainkan bersama menjaga Indonesia dari cengkeraman politik dinasti dan oligarki.
“Selamat berjuang, doakan kami selalu bersama kalian,” pungkas pesan solidaritas tersebut.
Apakah aksi besar ini akan mengguncang Senayan dan menjadi penanda kebangkitan rakyat? Publik menanti.
Integritasnews.my.id
Pewarta: R. PRIHATANTO, S.Si
Editor: Ifa
