Integritasnews.my.id | Pewarta: R. PRIHATANTO, S.Si | Editor: Ifa
Jakarta – Kritik keras terhadap pelemahan pemberantasan korupsi belakangan ini kerap datang dari politisi, aktivis hukum, hingga akademisi ternama. Namun, satu nama yang belakangan mencuri perhatian publik justru berasal dari latar belakang berbeda: Helmy As’ad, akuntan yang lebih dikenal dengan sebutan “Akuntan Ndeso.”
Julukan itu bukan sekadar label, melainkan sikap sadar diri. Helmy ingin menegaskan bahwa suara orang kecil pun berhak menguliti praktik hukum yang dinilai tidak adil. Dengan latar belakang profesi auditor dan akuntan publik, ia justru menghadirkan perspektif unik—membaca korupsi lewat angka-angka dan logika akuntansi.
Karier Auditor yang Membentuk Perspektif
Lulusan Universitas Brawijaya ini pernah berkarier di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), lembaga negara yang menjadi garda depan pengawasan keuangan publik. Pengalaman di birokrasi tersebut diperkaya dengan kiprahnya di kantor akuntan publik. Dari sanalah ia melihat langsung bagaimana laporan keuangan negara bisa menjadi ruang rawan manipulasi ketika berhadapan dengan kepentingan politik.
“Dari balik angka-angka itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana sistem bisa dibajak. Dan kalau sistem sudah dikuasai oligarki, pemberantasan korupsi hanya jadi slogan,” ungkapnya dalam salah satu tayangan kanal YouTube pribadinya.
UU KPK yang “Mandul Sejak Lahir”
Helmy As’ad konsisten mengkritisi Undang-Undang KPK 2002. Ia menilai regulasi itu sejak awal tidak memberi keleluasaan penuh kepada lembaga antirasuah untuk menyentuh aktor-aktor besar di lingkaran kekuasaan.
“KPK dari dulu sudah dikepung kepentingan politik. Tangkap satu, tumbuh seribu. Karena akarnya bukan di pelaku, melainkan di sistem yang dilindungi UU,” tegas Helmy.
Narasi ini menjadi salah satu alasan mengapa ia banyak diikuti publik di media sosial. Dengan gaya bicara lugas, kadang emosional, namun berbasis pengalaman teknis sebagai auditor, kritiknya mudah dicerna bahkan oleh kalangan awam.
Dari Desa untuk Indonesia
Melalui branding “Akuntan Ndeso”, Helmy membangun ruang diskusi digital yang membumi. Ia sadar, jargon hukum yang terlalu akademis justru membuat masyarakat menjauh. Maka, ia memilih bahasa sederhana, contoh sehari-hari, dan analogi akuntansi agar publik lebih memahami bagaimana korupsi bekerja.
Aktivitasnya di media sosial bukan sekadar opini pribadi. Helmy menjadikannya medium edukasi publik sekaligus advokasi moral. Ia membuka tabir tentang bagaimana oligarki bisa mengendalikan hukum lewat regulasi, serta bagaimana masyarakat seharusnya bersikap kritis.
Suara Pinggiran yang Tak Bisa Diabaikan
Kehadiran Helmy As’ad menjadi bukti bahwa kritik tajam tidak hanya monopoli elit politik atau pakar hukum papan atas. Suara dari pinggiran pun bisa mengguncang, asal dilandasi pengalaman, data, dan keberanian.
Sebagai “Akuntan Ndeso”, ia memilih jalan berbeda: melawan dari luar lingkar kekuasaan, dengan harapan suatu hari Indonesia benar-benar bebas dari cengkeraman oligarki.
Helmy bukan sekadar akuntan, melainkan saksi hidup dari praktik sistem yang rentan dibajak. Dan ketika angka-angka bicara, publik pun mulai menyadari: korupsi bukan hanya soal moral individu, tapi juga produk dari hukum yang dirancang untuk melanggengkan kepentingan tertentu.
👉 Pernyataan tersebut disampaikan Helmy As’ad melalui kanal YouTube pribadinya, dan menjadi bagian dari pandangannya sebagai auditor publik.
