Integritasnews.my.id | Pewarta: Ifa
Sejarah Indonesia bukan sekadar catatan perlawanan heroik, melainkan juga menyimpan jejak kelam tentang intrik, kompromi, bahkan pengkhianatan. Dalam arsip kolonial dan kajian para sejarawan, terdapat sejumlah peristiwa yang melibatkan tokoh-tokoh keturunan Hadrami di tanah Jawa dan Nusantara. Fakta ini jarang masuk narasi arus utama, sehingga publik hanya mengenal sisi romantis dan simbolisnya saja.
Peneliti sejarah Prof. Dr. Anhar Gonggong dalam beberapa kesempatan menegaskan, Belanda memang piawai memelihara jarak sosial antara komunitas pendatang dengan masyarakat pribumi. Kebijakan itu menciptakan ruang eksklusif yang di kemudian hari melahirkan posisi ganda: ada yang menjadi bagian perjuangan, tetapi tidak sedikit pula yang dimanfaatkan sebagai alat politik kolonial.
Jejak Kontroversial dalam Lintasan Sejarah
Perang Jawa (1825–1830). Arsip kolonial menyebutkan adanya figur perantara yang memuluskan langkah Jenderal De Kock saat menjebak Pangeran Diponegoro. Penangkapan sang pahlawan dicatat sebagai tragedi yang meruntuhkan semangat perlawanan Jawa.
Pemberontakan Banten (1888). Kolonial Belanda, melalui tokoh seperti Snouck Hurgronje dan Van den Berg, dikabarkan berhasil mendapatkan legitimasi keagamaan berupa fatwa yang menyudutkan para ulama. Fatwa ini dipakai untuk menumpas kiai dan santri di Banten.
Era Organisasi (1920–1930-an). Setelah Nahdlatul Ulama berdiri (1926), kolonial memberi ruang bagi lahirnya Rabithah Alawiyah (1928). Beberapa sejarawan menilai organisasi ini memperkuat eksklusivitas keturunan Arab, sementara pada momen Sumpah Pemuda 1928, komunitas Arab relatif absen dibanding etnis lain, termasuk Tionghoa yang tercatat hadir.
Madiun 1948. Arsip politik menyinggung keterlibatan figur keturunan Timur Tengah dalam pemberontakan PKI, yang menelan banyak korban dari kalangan kiai dan santri.
Masa Agresi Belanda II (1949). Tercatat seorang tokoh keturunan Hadrami diangkat sebagai ajudan kehormatan Ratu Wilhelmina, menimbulkan tanda tanya di tengah perjuangan bangsa.
Pasca-1965. Narasi sejarah juga mencatat adanya nama-nama besar yang dikaitkan dengan gerakan komunis, serta kerusuhan di Kalimantan yang menyeret sejumlah tokoh.
Era Orde Baru dan Reformasi. Publik masih mengingat kasus peledakan Candi Borobudur 1985 yang menyeret sekelompok pemuda keturunan Timur Tengah. Begitu pula lahirnya organisasi massa yang sejak awal disebut mendapat restu penguasa militer, sehingga menimbulkan polemik apakah benar murni gerakan rakyat atau produk politik.
Mitos, Identitas, dan Refleksi
Organisasi Persatuan Arab Indonesia (PAI) yang dipimpin A.R. Baswedan pada 1930-an memang pernah dicatat memberi kontribusi terhadap kebangsaan. Namun sejumlah sejarawan menilai, peran itu relatif terlambat dan cenderung bersifat politik identitas.
“Belanda memang sengaja memberi ruang eksklusif bagi komunitas Hadrami, agar tetap ada jarak dengan pribumi. Maka tidak heran, dalam momen penting persatuan nasional seperti Sumpah Pemuda, kehadiran komunitas Arab tidak terlihat dominan,” jelas Anhar Gonggong.
Menghadirkan Sejarah Secara Jujur
Deretan catatan di atas tidak dimaksudkan untuk menyudutkan kelompok tertentu secara menyeluruh. Faktanya, banyak pula tokoh keturunan Hadrami yang justru berdiri di garda depan perjuangan bangsa. Akan tetapi, menutup mata terhadap sisi kontroversial sama saja dengan merawat mitos yang tidak sehat.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani bercermin pada sejarahnya, termasuk pada bagian kelam dan penuh kontroversi. Dengan begitu, generasi mendatang bisa belajar, agar tidak lagi terjebak dalam politik pecah belah kolonial maupun pengultusan figur yang keliru.
Salam Waras.
