BATURAJA — Integritasnews.my.id | Senin, 20 Oktober 2025
Oleh: Mas Sutasin, S.H
Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya interaksi sosial masyarakat modern, muncul satu perilaku yang seakan klasik namun tetap berbahaya: mengadu domba.
Tindakan ini, meski sering tampak sepele—sekadar ucapan, sindiran, atau kabar burung—sesungguhnya merupakan racun sosial yang mampu memecah belah persaudaraan dan menghancurkan kepercayaan antarmanusia.
Dalam kehidupan bermasyarakat, mengadu domba berarti menebar benih permusuhan di antara dua pihak yang semula rukun. Pelakunya sering kali menyusupkan fitnah, memelintir fakta, atau memanfaatkan perbedaan pendapat demi kepentingan pribadi. Dari hal kecil inilah, api kebencian bisa menyala dan merusak tatanan sosial yang dibangun dengan susah payah.
MENGADU DOMBA, PERILAKU KUNO YANG TERUS BERULANG
Sejarah menunjukkan, kehancuran banyak kelompok, bahkan bangsa, kerap bermula dari perpecahan internal akibat adu domba.
Dalam konteks modern, praktik ini tak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, tetapi juga di dunia kerja, politik, hingga media sosial.
Satu bisikan kebohongan bisa menimbulkan curiga, satu pesan singkat dapat menumbuhkan kebencian, dan satu unggahan di media sosial bisa memicu perpecahan massal.
“Mengadu domba itu ibarat api kecil di dalam jerami kering,” ujar seorang tokoh masyarakat Baturaja ketika dimintai tanggapan. “Sekali tersulut, sulit dipadamkan.”
DAMPAK SOSIAL DAN MORAL YANG MENGERIKAN
Perbuatan mengadu domba menimbulkan efek berantai yang berbahaya. Hubungan antarindividu menjadi retak, kepercayaan hilang, dan reputasi seseorang bisa hancur tanpa bukti nyata.
Dampak paling mengkhawatirkan adalah lahirnya konflik dan pertengkaran, bahkan hingga merembet ke ranah keluarga, organisasi, dan lembaga sosial.
Tak hanya orang lain yang dirugikan, pelaku adu domba sendiri pun akan kehilangan kepercayaan, dicap munafik, dan terperangkap dalam lingkaran kebohongan yang ia ciptakan sendiri.
LARANGAN DALAM AJARAN ISLAM
Islam secara tegas melarang umatnya berbuat namimah (adu domba).
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11–12, agar manusia tidak saling memfitnah, mencela, atau menggunjing satu sama lain, karena hal itu ibarat memakan daging saudaranya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Muslim)
Pesan ini menegaskan bahwa perbuatan mengadu domba bukan sekadar dosa kecil, melainkan dosa besar yang mengundang murka Allah SWT dan membawa kehancuran moral di tengah masyarakat.
CARA MENGHINDARI RACUN ADU DOMBA
Untuk menjaga diri dari perilaku destruktif ini, ada beberapa langkah sederhana namun penting:
1. Kendalikan lidah dan jari. Jangan menyebarkan kabar yang belum pasti kebenarannya.
2. Bangun akhlak yang baik. Hindari menilai orang lain tanpa dasar yang jelas.
3. Jauhi prasangka buruk. Prasangka hanya menumbuhkan curiga dan permusuhan.
4. Tanamkan empati. Belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum berbicara.
Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, saling menghargai, dan tidak mudah dipecah oleh isu-isu menyesatkan.
HUKUM DAN PERTANGGUNGJAWABAN MORAL
Dalam pandangan Islam, mengadu domba tergolong haram dan termasuk dosa besar.
Pelakunya akan menerima balasan setimpal atas perbuatannya, baik di dunia maupun di akhirat.
Lebih dari itu, tindakan ini mencederai nilai moral dan kemanusiaan karena mengikis rasa saling percaya dan menodai keharmonisan sosial.
PESAN MORAL UNTUK MASYARAKAT
Mengadu domba tidak pernah membawa manfaat—hanya meninggalkan luka, curiga, dan perpecahan.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membangun karakter yang jujur, santun, dan berempati.
Mari hentikan budaya menyebar fitnah, gosip, dan adu domba.
Jaga harmoni di lingkungan kita dengan memperkuat komunikasi dan saling percaya.
Karena sejatinya, kedamaian tidak akan tumbuh di tanah yang dipenuhi kebohongan.
Integritas sosial dimulai dari integritas diri.
Menjaga lidah dan hati adalah benteng utama dari perpecahan.
Sebagaimana disampaikan pewarta kami, Mas Sutasin, S.H.,
“Adu domba tidak butuh peluru untuk menghancurkan, cukup dengan kata-kata, sebuah bangsa bisa terpecah.”
🟠 Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten.
Reporter: Mas Sutasin, S.H
Editor: Redaksi Integritasnews.my.id
Tanggal: Senin, 20 Oktober 2025
