“Katakan Kebenaran Meski Pahit” — Renungan Sang D.P.O Siti Jenar dari Besuki City


Besuki, 31 Oktober 2025 — Integritasnews.my.id

Di tengah derasnya arus informasi dan opini yang terus mengalir tanpa batas di ruang digital, muncul sebuah renungan tajam dari sosok yang menamakan dirinya Sang D.P.O – Siti Jenar From Besuki City. Dalam keheningan sepertiga malam, ia menuliskan sebuah pesan moral yang menggugah hati, berlandaskan pada sabda yang begitu dalam maknanya:

 “Qulil haqqa walau kana murran”

(Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit)

Ungkapan yang bersumber dari sebuah riwayat hadis ini, menurutnya, bukan sekadar nasihat sederhana, tetapi merupakan prinsip hidup yang seharusnya menjadi pedoman bagi setiap Muslim dalam berkata dan bertindak.

“Ungkapan itu mengajarkan pentingnya untuk senantiasa berkata jujur dan menyampaikan kebenaran, sekalipun kebenaran tersebut tidak menyenangkan, atau bahkan mungkin sulit untuk diterima,” tulisnya dalam sebuah refleksi yang penuh makna.

Lebih lanjut, Sang D.P.O menyoroti kondisi sosial hari ini yang kerap kali menjadikan kebohongan sebagai sesuatu yang mudah dan bahkan populer untuk diucapkan. Di tengah situasi seperti itu, katanya, keberanian untuk berkata jujur justru semakin langka.

“Namun begitulah hakikat kebenaran,” lanjutnya, “Ia tidak selalu enak diucapkan, tidak selalu manis didengar, dan sering kali membawa konsekuensi yang berat. Tapi justru di situlah nilai keberanian sejati seorang manusia diuji.”

Dalam pandangannya, kebenaran bukan hanya persoalan kata, tetapi cerminan integritas dan keimanan. Karena itu, seorang Muslim sejati harus tetap berpegang pada kejujuran, meskipun kebenaran yang diucapkannya dapat menimbulkan ketidaksetujuan, perdebatan, atau bahkan pertentangan.

“Pada prinsipnya hal ini bertujuan agar kita sebagai umat Muslim harusnya selalu berkata benar, bahkan dalam situasi sulit,” ujarnya. “Terlebih di zaman sekarang, ketika kebohongan mungkin terasa lebih mudah dan lebih cepat diterima masyarakat.”

Tulisan yang ia sebut sebagai “celotehan di sepertiga malam” ini bukan hanya curahan hati pribadi, melainkan sebuah seruan moral agar umat tidak terjebak dalam budaya kepalsuan. Bahwa di tengah dunia yang semakin pandai membungkus dusta dengan kata-kata indah, justru kejujuranlah yang menjadi bentuk perlawanan paling berani.

“Sekian wassalam dan selamat malam menjelang pagi,” tulisnya menutup renungan itu — sederhana, namun penuh makna.

Sebuah pesan tajam dan reflektif dari Sang D.P.O Siti Jenar From Besuki City, yang mengingatkan kita semua bahwa kebenaran sejati memang pahit, namun tanpa keberanian untuk mengatakannya, kehidupan akan kehilangan makna.


(Redaksi Integritasnews.my.id | Pewarta: Ifa)