Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten
14 Oktober 2025
Perubahan zaman tidak hanya mengguncang gaya hidup masyarakat, tetapi juga menggoyahkan citra sebagian tokoh agama yang dulu dikenal sebagai simbol kesederhanaan dan keteladanan. Dulu, sosok kyai adalah cermin ketulusan, keikhlasan, dan pengabdian murni terhadap ilmu dan santri. Kini, sebagian dari mereka tampak menjauh dari nilai-nilai itu, hidup dalam kemewahan dan kekuasaan yang berlebihan.
Kyai-kyai dahulu hidup sederhana. Tidak ada mobil mewah, rumah megah, atau gaya hidup glamor. Mereka tinggal di kamar kecil di pondok pesantren, makan dan minum seadanya bersama para santri. Kehidupan mereka melebur dengan kesederhanaan dan keikhlasan. Pakaian yang dikenakan pun sama dengan para santri sarung biasa, baju lusuh, tanpa gengsi duniawi.
Mereka mengabdi penuh pada pendidikan santri, tanpa pamrih, tanpa ambisi jabatan, tanpa orientasi materi. Putra-putri mereka pun hidup sopan, rendah hati, dan menghormati siapa pun tanpa memandang status. Karenanya, para santri menghormati kyainya bukan karena kekuasaan atau kekayaan, melainkan karena keteladanan moral dan ilmu yang memancar dari kepribadian mereka.
Namun, kini situasi tampak berbalik di banyak tempat. Di “nun jauh sana” sebuah ungkapan halus yang menggambarkan fenomena yang mulai tampak di berbagai penjuru ada sebagian kyai modern yang hidupnya bergelimang kemewahan. Mereka memiliki mobil-mobil mewah, rumah besar, bahkan menjadi operator politik bagi penguasa. Gaya hidup mereka lebih menyerupai elite sosial daripada pengasuh pesantren yang sederhana.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian keluarga mereka hidup seolah dalam lingkaran kemewahan yang berlebihan, sementara santri-santri di bawah asuhan mereka tetap hidup sederhana, bahkan kekurangan. Ajaran agama kerap dijadikan alat pembenar untuk menenangkan atau membatasi para santri agar tetap patuh, tanpa mempertanyakan arah pengabdian sebenarnya.
Kritik terhadap fenomena ini sering kali dianggap sebagai penghinaan terhadap ulama. Padahal, kritik itu muncul dari kecintaan terhadap marwah pesantren dan moral keulamaan. Tidak sedikit yang marah ketika disebut telah menyimpang dari jalan kesederhanaan, seolah lupa bahwa kekuasaan dan harta hanyalah titipan sementara.
Saiful Huda Ems (SHE), seorang penulis dan pemerhati sosial keagamaan, menyoroti fenomena ini dengan gaya satire yang menggigit. Dalam tulisannya, ia mengingatkan bahwa ketika nilai keikhlasan bergeser menjadi pencitraan, dan kesederhanaan berubah jadi kemewahan, maka ruh pesantren sejatinya tengah digadaikan.
“Kalau dikritik sedikit saja mereka murka, hingga seolah mereka lupa dana haji yang pernah digarong Pak Bodong, akan membuatnya dibanting-banting Malaikat di neraka,” tulis SHE dengan nada getir.
Refleksi ini bukan untuk menuduh, melainkan untuk mengingatkan. Zaman boleh berubah, tetapi nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan keteladanan moral seharusnya tetap abadi di dada para pewaris ilmu agama.
“Apakah zaman sudah berubah?” tutup SHE dengan tanya retoris yang menyentak.
“Entahlah… Wallahu a’lamu bisshawab.”
Editor: Redaksi Integritasnews.my.id
Sumber: Naskah tulisan reflektif Saiful Huda Ems (SHE)
Hak cipta milik Media Integritasnews.my.id
Slogan: Tepat, Lugas, Konsisten
