Oleh: Pewarta IFA — Integritasnews.my.id
JAKARTA — Tujuh bulan sudah berlalu sejak Majalah Tempo menggemparkan publik dengan laporan investigatif yang menyeret nama Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, dalam dugaan bisnis judi online di Kamboja. Namun, hingga kini, sosok yang dikenal sebagai tangan kanan Prabowo Subianto itu memilih diam. Tidak ada bantahan, tidak ada klarifikasi.
Diam yang panjang itu kini berubah menjadi gema, menembus dinding kekuasaan, dan mengguncang fondasi moral Partai Gerindra.
Laporan Tempo edisi 6 April 2025 berjudul “Pengusaha dan Politikus Pengendali Judi Online di Kamboja” menyebut nama Dasco tercatat dalam dokumen kepemilikan Golden Princess Hotel & Casino, sebuah jaringan usaha di kawasan Bavet City, perbatasan Kamboja–Vietnam.
Lokasi itu bukan sekadar tempat hiburan — ia dikenal luas sebagai sarang scam, perdagangan orang, dan eksploitasi digital terhadap ribuan WNI.
“Wakil rakyat yang diam ketika rakyat disiksa di Kamboja adalah pengkhianat demokrasi,”
tegas Wanda Assyura, Ketua Pemuda Aceh–Jakarta, kepada Integritasnews.my.id, Minggu (2/11/2025).
Bungkam yang Menjadi Isyarat
Menurut laporan redaksi Tempo, permintaan wawancara telah dikirim berulang kali sebelum publikasi. Namun, tidak satu pun pesan, panggilan, atau surat resmi dibalas oleh Dasco.
Sikap diam itu membuat publik bertanya-tanya: apakah ini bentuk kehati-hatian, atau justru strategi untuk menenggelamkan isu?
Di internal Gerindra, sejumlah kader tampak resah. Ada yang menyebut tuduhan ini sebagai “fitnah menjelang konsolidasi kabinet”, ada pula yang menyebutnya “uji integritas politik partai penguasa”.
Namun, fakta di atas kertas tak bisa dihapus: nama Sufmi Dasco Ahmad memang muncul dalam jaringan perusahaan yang punya afiliasi di Kamboja.
“Diamnya bukan strategi cerdas, tapi gejala feodalisme elite,”
ujar Wanda dengan nada tajam.
“Gerindra harus bersih. Kalau tidak, rakyat akan menilai bahwa partai penguasa ikut bermain di wilayah abu-abu moral.”
Tagar yang Membesar, Kepercayaan yang Menipis
Tagar #DascoBukaSuara kini menggema di media sosial. Ribuan warganet menuntut agar PPATK melakukan audit lintas rekening, dan KPK menelusuri LHKPN Dasco secara terbuka.
Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir, video penyiksaan WNI di kompleks judi Bavet City viral di berbagai platform. Publik menautkan semuanya pada isu besar: mafia digital, judi daring, dan keterlibatan oknum elite politik.
Sumber internal PPATK yang dikonfirmasi Integritasnews membenarkan bahwa lembaganya tengah menelusuri aliran dana lintas negara terkait bisnis kasino di Kamboja. Meski belum ada konfirmasi resmi apakah nama Dasco masuk radar, sinyal pengawasan itu sudah cukup menunjukkan keseriusan aparat.
“Satgas Judi Online tidak akan dipercaya kalau tajam ke bawah tapi tumpul ke atas,” sindir Wanda.
“Kalau negara berani menindak rakyat kecil, tapi tak berani menyentuh pejabat tinggi, maka hukum hanya jadi alat kekuasaan, bukan pelindung keadilan.”
Gerindra di Persimpangan Moral
Bagi Partai Gerindra, kasus ini bukan sekadar isu pribadi. Ia adalah ujian moral dan integritas.
Nama Dasco yang selama ini menjadi simbol loyalitas terhadap Prabowo, kini menjadi ujian bagi komitmen partai terhadap nilai bersih dan konsisten yang sering digaungkan di publik.
Beberapa sumber di internal partai menyebut, komunikasi politik kini lebih banyak diambil alih oleh Sjafrie Sjamsoeddin, menandakan redupnya figur Dasco di lingkar inti.
“Kalau isu ini tidak ditangani dengan tegas, Gerindra akan menanggung beban moral di hadapan rakyat,” ujar salah satu kader senior yang enggan disebut namanya.
“Gerindra harus menang dengan moral yang bersih,”
tegas Wanda.
“Dasco ini bom waktu. Jika tidak segera ditangani, ia bisa merusak reputasi partai dan bahkan mencederai nama besar presiden sendiri.”
Diam yang Bisa Meledak
Sampai berita ini ditulis, Sufmi Dasco Ahmad belum memberikan tanggapan resmi. Ia tetap hadir dalam rapat-rapat DPR, namun selalu menghindar dari pertanyaan jurnalis.
Sikap ini kian memperkuat persepsi publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Dalam dunia politik, diam memang sering diartikan sebagai strategi. Tapi di tengah isu yang menyangkut moral dan penderitaan rakyat, diam justru berubah menjadi bahan bakar kecurigaan.
“Kalau memang bersih, buka semua data: rekening, aset, dan transaksi luar negeri.
Tapi jika terus bungkam, publik akan yakin bahwa ada api di balik asap,”
tutup Wanda Assyura.
Kini, semua mata tertuju pada langkah Presiden Prabowo Subianto.
Apakah ia akan membiarkan isu ini terus menjadi bara di bawah karpet, atau menuntaskannya secara terbuka demi menjaga integritas partai dan kehormatan bangsa?
Sebab dalam politik, kadang yang paling mematikan bukanlah ledakan besar—melainkan bom waktu yang berdetak pelan di ruang kekuasaan.
📰 Integritasnews.my.id
Tepat, Lugas, Konsisten
