Integritasnews.my.id — Pewarta: Ifa
(Tepat, Lugas, Konsisten)
Jakarta — Sebuah kalimat singkat namun tajam dari tokoh bernama SHE mengguncang ruang publik. “Setahu saya kalian dahulu bersamaku melawan dan menumbangkan Rezim Soeharto, lah sekarang setelah kalian menjadi menteri, komisaris, kepala daerah, kok jadi diam semua, tak ada yang bersuara, ketika Soeharto diusulkan menjadi Pahlawan Nasional? Kalian lagi sariawan ya?” tulisnya.
Ungkapan tersebut menyita perhatian banyak kalangan. Nada getirnya menggambarkan kekecewaan moral terhadap perubahan sikap sebagian tokoh reformasi — mereka yang dahulu bersuara lantang melawan otoritarianisme, kini justru terdiam di tengah isu sensitif: usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto, sosok yang dulu menjadi simbol kekuasaan panjang Orde Baru.
Bagi sebagian masyarakat, kritik SHE bukan sekadar sindiran personal, melainkan refleksi tajam terhadap ingatan kolektif bangsa. Reformasi 1998 yang diperjuangkan dengan keringat, air mata, dan darah para mahasiswa, aktivis, serta rakyat, kini seakan redup dalam ingatan.
SHE, dengan gaya sarkastik namun jujur, seolah mengingatkan bahwa keberanian moral tidak boleh padam oleh kenyamanan jabatan. “Dulu kita bersatu menolak penindasan. Sekarang, ketika sejarah hendak ditulis ulang, banyak yang memilih diam. Seolah lupa pada nurani yang dulu mereka perjuangkan,” tulisnya lagi dalam unggahan yang kini ramai dibicarakan warganet.
Pengamat politik menilai, kritik seperti ini seharusnya dipandang sebagai pengingat moral dan cermin sejarah. Pemberian gelar pahlawan memang urusan negara, tetapi penilaian publik terhadap rekam jejak seorang tokoh adalah bagian tak terpisahkan dari demokrasi.
Isu Soeharto sebagai Pahlawan Nasional memang kerap muncul menjelang peringatan Hari Pahlawan. Pro dan kontra menjadi keniscayaan. Namun yang paling menarik bukan pada usulannya, melainkan pada diamnya sebagian pihak yang dulu dikenal vokal dalam perjuangan reformasi.
SHE mengingatkan bahwa sejarah tidak boleh diselewengkan oleh kepentingan sesaat. Suara nurani harus tetap hidup, terutama dari mereka yang pernah berdiri di barisan perlawanan.
“Kalimat ‘kalian lagi sariawan ya?’ adalah metafora pahit — menyindir diamnya para tokoh yang dulu lantang,” kata seorang pemerhati sosial. “Diam di tengah isu penting bukan sikap netral, tapi bisa berarti mengabaikan tanggung jawab moral.”
Kini publik menanti: apakah kritik itu akan membuka kembali kesadaran kolektif, atau justru tenggelam dalam hiruk-pikuk politik praktis? Yang jelas, keberanian bersuara demi kebenaran tetap menjadi ujian bagi siapa pun yang mengaku pernah memperjuangkan reformasi.
