BESUKI, Sabtu 9 November 2025 – INTEGRITASNEWS.MY.ID –
Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, di tengah ambisi manusia mengejar kesuksesan, kekuasaan, dan harta, muncul sebuah refleksi tajam dari sosok yang dikenal dengan nama Sang D.P.O – Siti Jenar. Melalui celotehnya yang sederhana namun sarat makna, ia menyampaikan pesan mendalam tentang arti hidup dan ukuran sejati dari kesuksesan manusia.
“Hidup yang berarti terjadi ketika kita memberi hidup kita pada orang lain,” tulisnya. Prinsip ini, menurutnya, bukan sekadar filosofi, melainkan wujud nyata dari ajaran Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam HR. Ahmad, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Tak berhenti di situ, Sang D.P.O juga mengutip sabda Rasulullah bahwa amal yang paling disukai Allah setelah melaksanakan kewajiban adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam hati manusia lainnya. Baginya, pesan tersebut menjadi fondasi spiritual dan moral yang harus dihidupi, bukan sekadar dihafal.
“The value of success is not always measured from what you have, but how much effort that you make,” tulisnya lagi dalam dua bahasa, menegaskan bahwa nilai kesuksesan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, melainkan oleh seberapa besar usaha, dedikasi, dan perjuangan yang telah kita lakukan.
Bagi Sang D.P.O, harta dan jabatan hanyalah alat sementara. Ia menegaskan bahwa kesuksesan sejati tidak akan pernah bermakna bila tidak memberi manfaat bagi sesama manusia. Sebab, dalam setiap pencapaian, yang paling berharga bukanlah hasil yang tampak, tetapi proses panjang yang penuh kerja keras, kesabaran, dan ketulusan hati.
“Dedikasi, kerja keras, dan ketekunan adalah nilai-nilai yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan seseorang. Namun satu hal yang harus diingat, sukses tidak akan berarti dan tidak berguna apabila kita hidup tidak bermanfaat bagi sesama,” ujarnya menutup dengan kalimat reflektif yang menggugah kesadaran sosial.
Ungkapan Sang D.P.O – Siti Jenar dari Besuki ini seakan menjadi tamparan halus di tengah budaya materialisme yang kian menguasai ruang publik. Ia mengajak setiap insan untuk kembali kepada esensi kemanusiaan: bahwa hidup bukan tentang memiliki, melainkan memberi; bukan tentang mengumpulkan, tetapi tentang berbagi.
Dengan nada penuh ketulusan, ia menutup celotehnya, “Sekian celotehanku siang ini, wassalam.” Sebuah penutup sederhana, namun menyiratkan kedalaman makna dari seseorang yang memahami bahwa hidup yang sejati adalah hidup yang memberi arti bagi orang lain.
By: Sang D.P.O – Siti Jenar, From Besuki City
Pewarta: Ifa | INTEGRITASNEWS.MY.ID – Tepat, Lugas, Konsisten
