Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
Integritasnews.my.id – Pewarta: Ifa
Indonesia kini tengah menyaksikan bagaimana satu per satu selubung yang selama ini menutupi wajah kekuasaan mulai tersingkap. Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang dulu dikenal sederhana, merakyat, dan tampak jujur, kini dipertanyakan oleh sebagian kalangan terkait lingkaran pertemanannya, gaya kepemimpinan, dan dugaan keterlibatan orang-orang dekatnya dalam sejumlah persoalan hukum.
Saiful Huda Ems (SHE), seorang pemerhati sosial-politik, mengungkapkan kegelisahannya melalui tulisan bertajuk “Terbukanya Topeng Kepalsuan Jokowi.” Dalam narasi panjangnya, SHE mengajak publik untuk merenung, mengapa begitu banyak orang di sekitar Jokowi justru berasal dari kalangan yang kerap terseret masalah?
“Lihat saja nama-nama seperti Noel, Silfester, Budi Arie, Luhut, Tito, hingga kabar selentingan tentang Andi A. yang disebut-sebut terkait kasus TPPU. Mereka semua pernah berada dalam lingkaran pertemanan Jokowi,” tulis SHE.
Bukan hanya itu, SHE juga menyoroti munculnya berbagai dugaan pelanggaran yang melibatkan keluarga mantan Presiden tersebut. Misalnya, ia menyinggung kabar pernyataan almarhum Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba, yang pernah menyebut nama menantu Jokowi, Bobby Nasution, dalam konteks penyalahgunaan izin tambang di Halmahera—yang dikenal publik dengan sebutan Mafia Blok M.
Namun, menariknya, menurut SHE, satu demi satu tokoh yang dulunya begitu membela Jokowi kini tampak mulai menjauh. “Entah ini taktik untuk melindungi Jokowi dari jerat hukum, atau mereka tengah mencari benteng perlindungan baru di bawah kekuasaan Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.
Lebih jauh, SHE menyoroti pula perubahan komposisi kabinet Jokowi di periode keduanya. Tokoh-tokoh yang dikenal bersih dan berprestasi seperti Ignasius Jonan, Susi Pudjiastuti, hingga (alm) Rizal Ramli tidak lagi terlihat. “Padahal bukankah orang baik dan berprestasi justru seharusnya dipertahankan?” tulisnya kritis.
Menurut SHE, hal itu menunjukkan adanya kecenderungan bahwa Jokowi lebih nyaman dikelilingi oleh orang-orang yang “patuh tanpa kritik”, ketimbang mereka yang berani bicara jujur dan tegas. “Orang jahat akan lebih nyaman bersama orang jahat, sebagaimana oli tak akan menyatu dengan air jernih,” ujarnya menegaskan dengan kiasan tajam.
Dalam pandangan SHE, semua ini bukan sekadar fenomena politik biasa, tetapi tanda bahwa “topeng kesederhanaan Jokowi” perlahan mulai terbuka. Sosok yang dahulu tampak merakyat dan ndeso, ternyata—menurutnya—menyimpan ambisi kekuasaan yang luar biasa. Ia juga menyoroti gaya hidup mewah keluarga Jokowi yang dinilai tidak lagi mencerminkan kesederhanaan yang dahulu dijual ke publik.
“Rakyat Indonesia kini hanya menunggu waktu. Bukan karena benci, tapi karena cinta pada keadilan. Kita telah berjanji pada Ibu Pertiwi: bahwa keadilan harus diperjuangkan, meski sulit kita dapatkan,” tutup SHE dalam tulisannya yang menggugah kesadaran publik.
🟠 Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini dari penulis, Saiful Huda Ems (SHE). Pandangan yang tertuang di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi Integritasnews.my.id menayangkan opini ini sebagai bagian dari komitmen terhadap kebebasan berpendapat yang sehat dan berimbang.
Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten.
3 November 2025
Pewarta: Ifa
