Integritasnews.my.id — Sidrap | Pewarta: Ifa
Di sebuah rumah panggung rapuh berukuran sekitar 4×5 meter di Jalan Tangkoli, Kelurahan Baranti, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, hidup seorang perempuan lansia bernama Isana’, 65 tahun. Tinggal seorang diri di tengah area perkebunan yang jauh dari permukiman, kehidupannya berjalan tanpa penerangan, tanpa air bersih, tanpa toilet, dan tanpa jaminan hidup yang layak.
Rumah panggung yang menjadi satu-satunya tempat berlindung itu tampak miring, sebagian papan dindingnya meregang, sementara anak tangganya tidak utuh sehingga menyulitkan akses naik turun. Di dalamnya, kondisi kian memprihatinkan—dapur hitam oleh asap kayu bakar, debu menempel di setiap sudut, dan tempat tidur dikelilingi tumpukan kayu bakar untuk memasak sehari-hari.
Bertahan Hidup dengan Belas Kasih Keluarga dan Tetangga
Isana’ hidup dalam keterbatasan total. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak memiliki penghasilan, dan setiap hari hanya mengandalkan belas kasih keluarga maupun tetangga terdekat. Untuk mandi dan mencuci pakaian, ia harus menumpang ke rumah warga.
“Beliau sudah terlalu lama hidup seperti ini. Rumahnya tidak ada WC, tidak ada listrik, tidak ada akses air bersih. Seakan-akan rumah itu tidak pernah terlihat dalam peta kepedulian pemerintah,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Isana’ memiliki dua anak laki-laki. Anak pertamanya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal 10 tahun lalu akibat tumor ganas di leher. Anak keduanya hanya bekerja sebagai buruh kasar dan tidak tinggal bersama. Sesekali ia datang menjenguk, namun tidak mampu memperbaiki kondisi sang ibu yang telah lama hidup dalam kekurangan.
20 Tahun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah
Menurut keterangan keluarga, Isana’ telah menjalani kehidupan serba kekurangan selama lebih dari dua dekade. Tidak ada bantuan rutin dari pemerintah daerah, tidak memiliki jaminan kesehatan, tidak tersentuh program bantuan rumah layak huni, bahkan sekadar fasilitas dasar seperti air bersih dan listrik pun tidak pernah tersedia.
“Sudah puluhan tahun begini, tapi belum ada realisasi sama sekali. Warga mempertanyakan, apakah janji pembangunan rumah layak huni itu hanya isapan jempol?” ujar salah satu keluarga.
Kondisi sosial Isana’ sempat memburuk setelah kehilangan suaminya. Tekanan hidup dan himpitan ekonomi membuatnya mengalami gangguan jiwa. Namun seiring waktu, kondisinya perlahan pulih meski kehidupannya tetap berada di garis kemiskinan ekstrem tanpa kejelasan nasib.
Konfirmasi ke Camat Baranti Belum Mendapat Respons
Media Integritasnews.my.id telah berupaya melakukan konfirmasi kepada Camat Baranti, Hj. Mastura, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Lurah Baranti. Namun, hingga berita ini diturunkan, pesan maupun panggilan telepon yang dikirimkan belum mendapatkan tanggapan.
Absennya klarifikasi dari pemerintah kecamatan membuat banyak warga semakin mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menangani warganya yang hidup dalam kondisi darurat sosial.
Harapan Terakhir: Pemerintah dan Dermawan Tergerak
Isana’ berharap ada pihak yang peduli—baik pemerintah Kabupaten Sidrap maupun para dermawan—untuk memberikan bantuan nyata berupa:
Rumah layak huni
Akses air bersih
Fasilitas WC
Listrik
Bantuan makanan serta kebutuhan pokok lainnya
Setelah puluhan tahun menjalani hidup dalam kekurangan ekstrem, Isana’ masih menunggu hadirnya perhatian dari pemerintah daerah.
Harapan itu masih ia genggam, meski hingga kini pintu pertolongan belum juga terbuka.
