SURABAYA – Integritasnews.my.id – Aktivis sosial dan pengamat kebangsaan Saiful Huda Ems (SHE) kembali menyampaikan kritik tajam terhadap arah kepemimpinan nasional. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, ia menekankan pentingnya kepekaan seorang pemimpin negara terhadap perasaan umat, khususnya umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.
Menurut Saiful Huda Ems, seorang pemimpin nasional tidak cukup hanya mengandalkan kekuasaan politik dan kekuatan negara, tetapi juga harus memiliki kepekaan moral serta kemampuan memahami perasaan rakyat yang dipimpinnya.
“Jika tidak ada satu pun orang di sekitar Presiden yang berani memberitahukan bagaimana cara menghormati perasaan kaum Muslimin di negeri ini, maka panggilah saya atau siapa saja yang lebih kompeten untuk menjelaskan hal itu,” ujar Saiful Huda Ems dalam pernyataannya, Minggu (15/3/2026).
Ia menilai, Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia memiliki sensitivitas sosial dan religius yang harus dipahami secara mendalam oleh pemimpinnya. Oleh karena itu, setiap kebijakan negara hendaknya mempertimbangkan perasaan dan aspirasi umat agar tidak menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat.
Dalam pandangannya, seorang presiden juga harus memiliki kerendahan hati untuk belajar dan bertanya kepada orang-orang yang memahami nilai-nilai keagamaan serta kondisi sosial masyarakat.
Saiful Huda Ems menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat bukanlah kepemimpinan yang merasa paling benar, melainkan kepemimpinan yang mau mendengar kritik, masukan, serta suara-suara yang muncul dari masyarakat.
“Presiden harus lebih banyak mendengar suara rakyat, bukan sekadar berbicara melalui pidato-pidato seremonial. Kepemimpinan yang bijak lahir dari kemampuan merenung, memahami aspirasi rakyat, dan mengambil keputusan yang adil bagi semua,” tegasnya.
Lebih jauh, Saiful Huda Ems juga menyoroti pentingnya evaluasi terhadap berbagai perjanjian internasional yang dinilai berpotensi merugikan kepentingan nasional. Ia mencontohkan hubungan kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara besar yang memiliki kepentingan geopolitik global.
Menurutnya, pemerintah harus memastikan bahwa setiap kerja sama internasional benar-benar berpihak pada kepentingan bangsa Indonesia, bukan justru menempatkan negara dalam posisi yang merugikan.
“Presiden harus berani meninjau ulang berbagai kesepakatan internasional yang berpotensi merugikan negara. Kepentingan rakyat Indonesia harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan luar negeri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang abadi. Oleh sebab itu, seorang pemimpin negara harus menggunakan amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab, kebijaksanaan, serta kepekaan terhadap dinamika masyarakat.
Dalam pernyataannya, Saiful Huda Ems berharap Presiden Prabowo Subianto dapat lebih banyak melakukan refleksi kepemimpinan dan mendengarkan suara rakyat yang selama ini mungkin belum sepenuhnya terakomodasi.
“Kurangi pidato yang tidak terlalu mendesak. Perbanyak mendengar suara hati rakyat. Jika Presiden benar-benar ingin menjadi pemimpin nasional yang sejati dan bapak bangsa yang dihormati, maka kedekatan dengan aspirasi rakyat adalah kuncinya,” pungkasnya.
Pernyataan Saiful Huda Ems tersebut kembali menegaskan bahwa ruang kritik dalam demokrasi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan kekuasaan serta memastikan bahwa kebijakan negara tetap berpijak pada kepentingan rakyat.
Pewarta: IFA
Editor: Redaksi Integritasnews.my.id
Integritasnews.my.id – Tepat, Lugas, Konsisten
