“Pecahnya Piring, Retaknya Hari: Ketika Insiden Sepele Menjadi Cermin Ketegangan Rumah Tangga”

 


Wwwintegritasnews my id

Jakarta, 26 Mei 2025 – Sebuah piring porselen jatuh di dapur sebuah rumah di Pasar Minggu. Suara pecahannya tajam, tapi bukan hanya karena keramik menghantam lantai. Di balik denting keras itu, tersembunyi bunyi lain: suara letih, suara emosi yang lama dipendam, dan suara relasi yang perlahan retak tanpa disadari.


Pukul 06.15 pagi, dapur itu hanya berisi Rina (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga yang tengah menyiapkan sarapan. Tapi ketika piring lepas dari genggaman, bukan hanya porselen yang pecah—keheningan juga runtuh. Suaminya turun dari lantai atas dan marah besar. “Kamu tuh kalau kerja pakai otak, jangan asal gerak!” Bentakan itu lebih tajam dari serpihan yang berserakan di lantai.



Lebih dari Sekadar Piring

“Cuma piring,” mungkin begitu pikir orang luar. Tapi bagi Rina, insiden itu seperti pembuka tirai atas sebuah panggung yang lama tersembunyi: kehidupan rumah tangga yang penuh tekanan, komunikasi yang aus, dan perasaan terkurung dalam rutinitas yang mengikis. “Kami sering bertengkar. Masalahnya selalu kecil, tapi kayaknya makin lama makin menumpuk,” ujarnya lirih.


Psikolog keluarga, dr. Andira Maheswari, M.Psi, mengungkapkan bahwa konflik rumah tangga kerap muncul lewat hal-hal sepele. “Yang retak bukan benda, tapi hubungan. Piring hanyalah medium. Ia pecah, tapi emosi yang tak terlihat itu yang lebih berbahaya.”


Kondisi Psikologis yang Terabaikan

Selama hampir satu jam setelah piring pecah, tak ada yang memungut serpihannya. Dapur dibiarkan seperti medan pasca-pertengkaran. “Sering begitu. Kami diem-dieman,” kata Rina. Di banyak rumah, ketegangan semacam ini berlangsung tanpa jeda. Emosi diredam, disimpan, sampai akhirnya meledak lewat hal-hal yang tampak remeh.


Menurut Andira, pola ini berbahaya. “Kita tumbuh dalam budaya yang menganggap perempuan harus kuat, sabar, bisa segalanya. Tapi manusia punya batas. Dan ketika batas itu dilewati, retakan bisa terjadi kapan saja, lewat medium apa saja.”


Simbol Krisis Sunyi

Rina bukan satu-satunya. Ia mewakili banyak perempuan di kota-kota besar yang harus menjalankan peran ganda, sering kali tanpa dukungan emosional yang memadai. Di antara cucian, kerja remote, pengasuhan anak, dan tekanan pasangan, kelelahan mental menjadi ancaman senyap.


Pecahnya sebuah piring adalah metafora yang tepat—tak kasat mata tapi tajam. Ia menandai titik di mana seseorang berhenti memedulikan pecahan, karena yang lebih rusak adalah dirinya sendiri.


Menata Ulang Batas dan Kesadaran

Apa yang bisa dilakukan? Menurut Andira, hal pertama adalah mengakui bahwa ada masalah. “Kesadaran itu langkah awal. Kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita akui rusak.”


Di tengah kota yang terus bergerak dan rumah tangga yang diam-diam menyimpan badai, narasi seperti ini penting untuk diangkat. Karena tidak semua luka berbentuk memar, dan tidak semua kekerasan terdengar. Kadang, ia hanya berupa sebuah piring yang pecah di pagi hari.

(Red)