Www integritasnews my id
Kabul, 23 JUNI 2025 , InformasiTerkininews.id — Di tengah ancaman yang mencekam, di balik bayang-bayang ledakan bom dan deru senjata yang tak henti menggema, Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dengan tenang dan penuh keberanian melangkah menembus negeri yang tercabik oleh perang saudara Afghanistan. Bukan kunjungan biasa. Ini adalah langkah politik penuh risiko, diplomasi bernyali, dan misi kemanusiaan yang langka dilakukan oleh seorang kepala negara, apalagi dari kawasan Asia Tenggara.
Kunjungan Mantan Presiden Jokowi ke Kabul saat itu tidak hanya menjadi sorotan media internasional, namun juga menjadi simbol komitmen Indonesia dalam mewujudkan perdamaian global. Ketika banyak pemimpin dunia memilih menjaga jarak dari zona konflik, Jokowi justru hadir langsung, menjabat tangan-tangan yang digenggam derita, menatap mata-mata yang lama kehilangan harapan.
Ledakan bom dikabarkan terjadi di beberapa titik tak jauh dari lokasi kunjungan. Namun Jokowi tetap tenang. Tanpa rombongan besar. Tanpa pamer kekuatan militer. Yang beliau bawa hanya tekad kuat untuk menunjukkan bahwa perdamaian bukan sekadar wacana. Dalam suasana mencekam itulah, Mantan Presiden bahkan sempat memimpin salat berjamaah bersama warga dan tokoh-tokoh setempat. Sebuah momen yang menggugah hati: pemimpin negara Muslim terbesar di dunia menunaikan ibadah di tanah yang porak poranda oleh konflik atas nama agama.
“Subhanallah...,” lirih seorang warga Kabul, menahan haru menyaksikan momen langka itu. Di negeri mereka yang diliputi duka, hadir cahaya kecil bernama solidaritas.
Namun ironinya, sosok yang dihormati dan diapresiasi di negeri orang itu justru kerap dibully, direndahkan, bahkan difitnah tanpa jeda di tanah airnya sendiri. Di media sosial, di forum-forum, Jokowi tak luput dari cibiran—meski apa yang ia lakukan jauh melampaui standar keberanian seorang pemimpin dunia.
“Di negeri orang dihormati, di negeri sendiri dihujat. Ya Allah...,” begitu suara hati banyak rakyat Indonesia yang masih percaya bahwa keteguhan dan kesederhanaan Jokowi bukan pencitraan, melainkan cermin dari komitmen sejati seorang negarawan.
Jokowi datang ke Afghanistan bukan membawa senjata, melainkan membawa tawaran damai. Bukan untuk ikut campur urusan dalam negeri mereka, tetapi untuk menunjukkan empati. Sebab Indonesia sendiri punya pengalaman panjang dalam merawat kebhinekaan, meredam konflik, dan menjaga persatuan meski berbeda-beda.
Kunjungan itu yang mungkin luput dari ingatan sebagian anak bangsa seharusnya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah diplomasi luar negeri Indonesia. Bukan hanya karena keberanian fisik, tapi juga karena nilai moral yang dibawanya. Nilai bahwa kemanusiaan harus diutamakan. Bahwa kedamaian adalah tanggung jawab bersama.
Kini, ketika dunia masih bergulat dengan konflik dan ketegangan geopolitik, momen itu mengingatkan kita: bahwa pemimpin yang besar bukan hanya yang bersuara lantang, tapi yang berani hadir dalam sunyi, di tengah ketakutan, dan tetap berdiri tegak demi sebuah harapan.
🖋️ Pewarta:
R. PRIHATANTO, S.Si,
Integritasnews my id
📍 Editor: ifa
