Integritasnews.my.id – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Indonesia berlangsung khidmat. Panggung utama berdiri megah, karpet merah terbentang, kursi tamu pejabat berderet rapi. Usai rangkaian seremoni, bendera kembali diturunkan, tamu-tamu pulang, dan lokasi perlahan sepi.
Namun di tengah panggung kemerdekaan itu, sebuah adegan muncul tak tercatat dalam rundown acara, tapi justru paling jujur. Seorang bocah kecil terlihat memunguti kue dari kotak makanan yang ditinggal begitu saja. Kotak itu awalnya untuk undangan resmi, namun setelah para tamu pergi, sisa-sisa makanan teronggok tak berdaya.
Bagi sebagian orang, itu sekadar sisa. Makanan yang sudah tak menarik. Tapi bagi si bocah, itu adalah pesta kecil. Rezeki tak terduga. Sebuah kemewahan yang jarang mampir.
Adegan ini bukan potret tunggal. Ia adalah refleksi. Tentang ketimpangan sosial yang masih nyata meski republik ini sudah delapan dekade berdiri. Tentang bagaimana seremoni sering tampil megah, sementara rakyat di akar rumput masih berebut remah.
Di satu sisi, negara terus mengibarkan jargon persatuan, menancapkan bendera di setiap sudut, dan menyusun narasi nasionalisme dalam setiap pidato. Tapi di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya adil bagi semua.
Bocah yang memungut sisa kue itu seakan bertanya tanpa suara: “Untuk siapa kemerdekaan ini?”
Pertanyaan yang getir, namun perlu dijawab dengan tindakan nyata. Sebab, delapan puluh tahun setelah proklamasi, kita masih menemukan anak-anak yang harus merasa bahagia dari sisa-sisa pesta pejabat.
"Makanan sisamu adalah hidangan lezat bagi yang lain." Kalimat sederhana itu kini menjelma menjadi cermin. Cermin yang memantulkan wajah bangsa, lengkap dengan ironi di balik benderang seremoni.
Mungkin, kemerdekaan sejati baru benar-benar hadir ketika tak ada lagi anak yang menganggap remah sebagai pesta.
✍️Pewarta :
R.PRIHATANTO, S.Si
Editor : ifa
