Diam Terhadap Ketidakadilan, Sebuah Kejahatan Terselubung

 

Catatan Tajam dari Sang D.P.O Siti Jenar, Besuki City


IntegritasNews.my.id – Pewarta Ifa

Tidak semua perjalanan hidup seorang aktivis ditentukan oleh aksi di jalanan atau selebaran protes. Terkadang, sejarah perlawanan justru terukir di balik jeruji besi. Itulah yang dialami oleh seorang aktivis asal Besuki, yang dikenal dengan nama pena Sang D.P.O Siti Jenar.

Dalam catatan reflektifnya, ia mengisahkan bahwa hukuman yang pernah dijalaninya bukan semata akibat tindakan remeh yang dilakukan, melainkan buah dari diamnya mayoritas aktivis pengecut serta komunitas yang mengaku memperjuangkan kebenaran, namun memilih bungkam ketika ketidakadilan berlangsung di depan mata.

“Kala itu demi Allah saya tidak menyesali sedikitpun apa yang terjadi. Saya sadar akan konsekuensi pergerakan saya. Untung hanya penjara, bukan mati,” ungkapnya.


Keteladanan dari Filsafat dan Sejarah

Dalam narasinya, ia menyinggung sosok teladan yang menjadi pegangan moralnya: Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sang khalifah pernah berpesan, “Kezaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.”

Tak hanya itu, ia juga menarik garis inspirasi dari filsafat kuno, Stoikisme, yang sejak lama menekankan keteguhan menghadapi penderitaan dan keberanian moral melawan ketidakadilan.

Stoikisme, menurutnya, bukan sekadar soal kesabaran, tetapi tentang keberanian untuk tetap menjunjung tinggi asas keadilan. Bahkan Epictetus, filsuf Yunani, pernah menegaskan: “Jangan pernah menyebut hal yang tidak adil sebagai hal yang wajar.”


Bahaya Diamnya Orang Baik

Aktivis asal Besuki ini menegaskan, kejahatan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik seperti penindasan atau kekerasan. Lebih berbahaya adalah diamnya orang-orang baik yang tahu kebenaran namun memilih bungkam demi kenyamanan.


“Ketika kita memilih diam demi keamanan diri sendiri, kita sesungguhnya ikut menopang struktur ketidakadilan. Dan ketika banyak orang baik pasif, yang jahat akan menang mutlak tanpa perlawanan,” tulisnya.

Baginya, sikap pasif dan apatis adalah bentuk kejahatan halus yang merusak nurani, bahkan tanpa disadari.


Catatan Malam Sang D.P.O

Di akhir catatannya, ia menegaskan kembali bahwa penjara yang pernah dialaminya bukan sekadar konsekuensi pribadi, melainkan cermin dari kegagalan kolektif.

 “Diam terhadap sebuah ketidakadilan adalah kejahatan yang paling halus. Kalian mungkin tak sadar, tapi sejatinya kalian nyaman di zona para pecundang,” tutupnya dengan nada getir.

Catatan ini menjadi peringatan bagi masyarakat luas, terutama kalangan aktivis dan pemangku kebijakan, bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tidak berhenti hanya pada wacana. Diam bisa berarti ikut melanggengkan kezaliman.

Sebuah renungan keras lahir dari balik luka dan jeruji, kini menjadi seruan moral bagi siapa pun: keberanian melawan ketidakadilan adalah inti dari kemanusiaan.