Kenangan Teriakan Seorang Aktivis dari Balik Jeruji: Antara Penjahat, Pengkhianat, dan Realitas Kehidupan


Besuki City – Integritasnews.my.id

Penjara, di mana pun di dunia ini, kerap diidentikkan sebagai tempat gelap. Sebuah ruang pengap yang sering digambarkan sebagai kubangan dari segala kebejatan manusia. Stigma itu melekat, tidak hanya di mata masyarakat, tetapi bahkan di kalangan para pelaku kejahatan itu sendiri. Ironisnya, ruang bernama “penjara” lebih dijauhi ketimbang segala bentuk hukuman lain.

Namun, bagi seorang aktivis yang pernah merasakan dinginnya jeruji besi pada tahun 2023–2024 lalu, penjara justru menjadi ruang refleksi yang melahirkan prinsip tajam nan berani:

“Lebih baik berteman dengan penjahat daripada teman penghianat dan penjilat.”

Prinsip ini terdengar sederhana, namun sejatinya mengandung makna mendalam. Ia menekankan bahwa kejujuran dan keterbukaan adalah fondasi utama dari persahabatan dan kebersamaan. Dalam pandangannya, seorang penjahat—betapapun buruk dan jahat perbuatannya—masih memiliki kejelasan sikap, masih menunjukkan wajah aslinya. Sebaliknya, seorang teman penghianat, penjilat, dan munafik yang bersembunyi di balik topeng kebaikan, justru jauh lebih berbahaya.

“Pengkhianatan mampu meruntuhkan kepercayaan, menghancurkan kebersamaan, bahkan meluluhlantakkan masa depan seseorang,” demikian lantang teriakan sang aktivis dari balik jeruji, kala itu.

Prinsip keras ini lahir bukan tanpa sebab. Hidup di tengah arus perjuangan dan kerasnya dunia pergerakan membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai wajah manusia: dari kawan sejati yang setia dalam suka duka, hingga sosok yang menusuk dari belakang dengan senyum palsu.

Bagi sang aktivis, penjara bukanlah aib, melainkan ruang kontemplasi. Jeruji bukan sekadar hukuman, tetapi juga cermin yang menyingkap siapa kawan, siapa lawan, siapa yang benar-benar tulus, dan siapa yang hanya menunggu celah untuk berkhianat.

Edisi kenangan ini pun menjadi pengingat keras bagi generasi muda, khususnya mereka yang bergerak di jalur perjuangan sosial, politik, maupun aktivisme. Bahwa ancaman terbesar sering kali tidak datang dari lawan yang jelas di depan mata, tetapi dari “teman” yang tampak baik, namun menyimpan belati di balik punggung.


Malam ini, dari Besuki City, sang D.P.O. yang pernah dikenal sebagai “Siti Jenar” menutup narasinya dengan salam sederhana:

Wassalam dan selamat malam.

Namun di balik kalimat penutup itu, tersimpan pesan tajam: berhati-hatilah pada pengkhianatan, karena dampaknya bisa lebih mematikan daripada kejahatan itu sendiri.


Integritasnews.my.id – Pewarta Ifa