Oleh: Ifa — Integritasnews.my.id
Surabaya, 30 Oktober 2025
Dalam derasnya arus zaman yang serba cepat dan dunia yang kian bising oleh ambisi, kata-kata bijak Imam Syafi’i — seorang ulama besar yang hidup lebih dari seribu tahun lalu — kembali menampar kesadaran manusia modern. Ucapannya, meski lahir di masa silam, tetap berdenyut hidup hingga kini. Setiap kalimatnya seolah menggugah nurani yang tertidur oleh urusan duniawi.
Imam Syafi’i tidak hanya dikenal sebagai sosok ahli fiqih yang menjadi rujukan umat Islam, tetapi juga seorang penuntun jiwa yang mengajarkan keseimbangan antara usaha dunia dan bekal akhirat. Dalam pandangannya, hidup ini adalah perjalanan singkat yang menuntut kebijaksanaan dalam setiap langkah.
🌿 Tentang Kesabaran dan Ketenangan
“Biarkan saja dunia berbuat sesukanya, dan lapangkanlah jiwamu jika qodlo' telah ditetapkan.”
Kalimat itu seperti tetes embun di tengah panasnya ujian hidup. Imam Syafi’i mengingatkan agar manusia tak larut dalam gelombang kecewa dan amarah. Dunia, baginya, hanyalah ladang ujian. Sementara ketenangan jiwa adalah buah dari kesabaran yang matang.
Ia menegaskan bahwa kesusahan, kebahagiaan, kelapangan, dan kesempitan hidup hanyalah fase yang berganti. Tidak ada yang abadi, karena semua tunduk pada kehendak Allah. Maka, ketika badai datang, bersabarlah. Dan ketika bahagia tiba, bersyukurlah.
💰 Tentang Rezeki dan Kemandirian
Dalam hal rezeki, Imam Syafi’i menegur keras manusia yang terlalu takut miskin.
“Tidak akan berkurang rizkimu sebab santai dalam bekerja, dan tidak akan bertambah pula dengan semangat usaha.”
Kalimat itu bukan ajakan untuk malas, melainkan seruan agar manusia meletakkan keyakinannya pada Allah — bukan pada jerih payah semata. Usaha adalah kewajiban, tapi hasilnya bukan hak mutlak manusia. Sebab, sebagaimana beliau ingatkan, “Bagaimana engkau takut kemiskinan, padahal Allah Maha Pemberi rezeki?”
Kemandirian sejati, bagi Imam Syafi’i, bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada teguhnya hati dalam kepercayaan bahwa setiap takdir telah tertulis dengan sempurna.
🤝 Tentang Persahabatan dan Keadilan
“Tiada kebahagiaan yang menyamai persahabatan dengan saudara yang satu keyakinan, dan tiada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka.”
Dalam dunia yang semakin individualistis, nasihat ini bagai penawar luka sosial. Imam Syafi’i menilai bahwa ikatan persaudaraan karena iman jauh lebih kokoh daripada hubungan yang dibangun atas kepentingan.
Lebih tegas lagi, beliau mengingatkan, “Jangan cintakan orang yang tidak cintakan Allah. Kalau dia boleh meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu.”
Sebuah pesan tajam bagi generasi yang sering terlena oleh cinta semu dan hubungan yang tak bernilai ukhrawi.--
📚 Tentang Ilmu dan Kearifan
Bagi Imam Syafi’i, ilmu bukan sekadar tumpukan hafalan. “Ilmu itu bukan apa yang dihafal, tetapi apa yang dimanfaatkan.”
Ucapan ini menohok siapa pun yang menjadikan ilmu sekadar kebanggaan intelektual, bukan cahaya yang menerangi amal.
Lebih lanjut, beliau menasihati agar berhati-hati dalam mencari pendapat. “Janganlah kamu berkonsultasi kepada orang yang di rumahnya tidak terdapat makanan, karena hal tersebut menandakan tidak berfungsinya akal mereka.”
Sebuah peringatan bahwa kebijaksanaan lahir dari pengalaman, bukan sekadar teori.
⚰️ Tentang Kematian dan Akhirat
Tak ada nasihat yang lebih menyentuh selain pengingat tentang akhir perjalanan manusia. Imam Syafi’i berkata:
“Ketahuilah, sesungguhnya hidupmu di dunia akan sirna, dindingnya juga miring dan hancur, maka perbanyaklah perbuatan baik dan jangan terlalu banyak berangan-angan.”
Pesan ini menuntun manusia agar tidak terperangkap dalam ilusi dunia. Hidup, betapa pun indahnya, hanyalah persinggahan singkat menuju keabadian.
Akhirnya, beliau menutup dengan kalimat yang seakan menjadi kunci keseimbangan hidup:
“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.”
Kalimat itu adalah kompas moral bagi siapa pun yang ingin hidup bermartabat di dunia, dan berbahagia di akhirat.
Dalam kesederhanaannya, Imam Syafi’i mengajarkan filosofi besar — bahwa kemuliaan manusia bukan diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari seberapa ia mampu menata hatinya di antara dunia dan akhirat.
🕊️ Sebuah renungan yang meneguhkan kembali makna hidup — bahwa ketenangan sejati bukan didapat dengan mengejar dunia tanpa henti, melainkan dengan menempatkannya di tempat yang semestinya.
Integritasnews.my.id — Tepat, Lugas, Konsisten
Pewarta: Ifa
📍Surabaya, 30 Oktober 2025
